407.000

No Comments »

Harga buku yang berjudul “The Complete Guide to Digital Graphic Design” karangan Bob Gordon & Maggie Gordon yang aku lihat di Gramedia Merdeka Bandung siang tadi. Ada juga buku-buku lain tentang desain grafis, desain packaging, color harmony, dan desain logo. Rata-rata harganya 300.000 - 500.000 per buku. Mahal… Gak jadi beli dulu…

[Posting ngga penting -_-]

Sinetron Remaja Indonesia, Riwayatmu Kini…

No Comments »

Judul harus mengesankan dulu, perkara mengesankan baik atau jelek urusan no 1.987.908, hehe …

Awal-awal sinetron remaja ada tahun berapa yah? Sekitar awal 2000-an mungkin ya… waktu aku SMP-SMA. Pertama kali aku lihat, wah… ceritanya kok mirip telenovela ya… cuma bedanya pemainnya lebih muda. Ada intrik, konspirasi yang semuanya berujung pada satu hal, pacar. Trus aku perhatikan, banyak sinetron memunculkan streorotipe murid pintar itu ngga gaul, kuper, kacamatanya 5inchi , kutu buku, nerd, cupu, hobinya cuma belajar dan belajar. Sementara yang dijadikan fokus adalah murid cantik / ganteng dengan segudang fisik yang bagus dengan kecenderungan kurang pintar. Coba aja perhatikan bagaimana si cantik dan si ganteng itu lebih banyak menghabiskan waktu di salon, mal, rumah teman, dan hampir ngga pernah diperlihatkan si cantik/si ganteng itu lagi baca. Atau perhatikan juga setting kamar mereka, aura seorang pelajarnya kurang kliatan.  Bagaimana penonton ngga berpikir kalau si ganteng atau si cantik di sinetron ini rada telmi, belajar aja ngga. Sejenius-jeniusnya orang, masih perlu buka buku, buka internet atau berguru. Belum lagi geng2an yang banyak ditampilkan di sinetron itu. Trus kenapa juga ngga ada sinetron yang fokusnya ke bagaimana anak SMP dan SMA berjuang mati-matian untuk sebuah prestasi atau memperjuangkan idealisme yang benar? Atau paling ngga adegan belajar itu jadi adegan utama gitu, ngga cuma sekedar tempelan untuk membedakan dengan kehidupan cinta orang dewasa (hiii.. bahasanya…).

Komentarku cuma dua kata, ngga banget plus…

Pertama, stereotipe yang tidak adil bertebaran di sinetron itu.

Dua, sisi positifnya ada juga sih dari sinetron-sinetron itu, yaitu mengajarkan untuk tidak mudah menyerah. Tapi harusnya pantang menyerah itu bukan cuma untuk urusan cinta remaja antara pemudi dan pemuda belasan tahun (duh kayak aku umur berapa aja ya, padahal baru aja lewat dari usia belasan…), tapi juga untuk banyak hal lainnya, seperti hubungan keluarga, kegiatan akademik, pertemanan, kegiatan sosial, dan masih buanyak lagi kegiatan positif yang bisa dilakukan waktu remaja. Pantang menyerah pun juga jangan sampai menghalalkan segala cara, termasuk cara curang

Tiga, ngga kelihatan di sinetron itu kalau remaja itu mau berusaha dan berjuang untuk mencapai tujuan seharusnya seorang pelajar. Mereka hanya jadi pejuang tangguh ketika berhubungan dengan pacar. Secara tersurat (atau tersirat ya?) usaha untuk berprestasi hampir tidak pernah jadi tema sentral di sebuah sintron remaja. Hal-hal selain urusan pacar adalah nomor 3685 dan bisa diselesaikan dengan gampang.

Empat, kekerasan yang pelakunya adalah remaja itu sendiri. Ketika ada orang yang dianggap terlalu cantik dan mengancam kepopuleran geng terkenal atau dikhawatirkan pacar ketua geng direbut oleh orang cantik itu, dimulailah intimidasi fisik dan psikis keorang bermasalah itu. Bener-bener deh, ngga penting sama sekali dan sangat sangat berbahaya. Bagaimana kalau perilaku…, wah… ngga tau deh nyebutnya apa, dijadikan inspirasi oleh pelajar SMP SMA? Apa seperti kasus Geng Nero di Pati itu?
Untuk kasus sinetron dan TV, uang memang segalanya. Ketika hal-hal negatif memang lebih dianggap lebih menguntungkan, itulah yang akan ditampilkan tanpa mempedulikan luas dan besarnya efek kartu domino yang muncul di masyarakat. Sangat berbahaya.

Piala Eropa 2008

No Comments »

Hampir 2 minggu belakangan, jadwal tidurku ngga jelas, hehe. Terlebih lagi waktu babak perempat final 4 hari kemarin, duh… Tiap pertandingan disiarkan jam 1 pagi dan hampir semuanya diselesaikan lebih dari 2 x 45 menit. Berdua sama uda, kami gantian tidur, kalau suara komentatornya mulai meninggi dan bersemangat, kami bangun… Artinya pertanda akan terjadi gol (walaupun lebih sering ngga jadi gol, hehe). Dan, hasil akhir perempat final, Jerman, Turki, Rusia, dan Spanyol maju ke babak berikutnya.

Dua tim yang aku pegang, Prancis dan Kroasia ternyata hanya terhenti sampai perempatfinal, bahkan Prancis ngga lolos ke babak dua. Kata uda: “mungkin ada semacam “kutukan”, Ra… tiap negara yang ira jagokan akan kalah, hahahaha.” Huh… biarin, masih bisa pindah jagoan.

Aku menjagokan Prancis karena prestasi mereka di Piala Dunia 2006 yang bisa mengalahkan Brazil (1-0). Kalau Kroasia, aku lebih kenal tim Kroasia lebih dulu daripada tim Prancis. Pertama kali aku lihat skuad Kroasia bermain adalah di Piala Eropa 1996 (Tahun 96, aku masih SD, nontonnya setelah semua orang di rumah tidur, abis belum boleh begadang. Kalau tahun 96 aku SD, berarti sekarang aku masih muda, :p hehehe). Tim Kroasia berhasil maju sampai babak semifinal. Di semifinal, mereka dikalahkan Rep. Ceko (aku lupa skornya…). Dan akhirnya, Jerman jadi juara. Waktu itu, Davor Suker dan Juergen Klinsmann masih memperkuat Kroasia dan tim Jerman.

Lanjut ke Piala Dunia 2000. Aku lihat pertandingkan final Prancis vs Itali di pulau Bidadari, waktu liburan satu angkatan SMA plus guru-gurunya.  Sebelum pertandingan, atmosfer yang sebelumnya ceria, penuh tawa-tawa ngga jelas, tiba-tiba berubah jadi kaku dan tegang. Tiap orang berkumpul sesuai dengan tim jagoannya. Kalau diingat-ingat lucu banget… Siapa yang bertanding, siapa yang heboh. Suporter asli dari Itali dan Prancis aja masih bisa ketawa sama-sama (aku lihat liputannya di TV). Besok paginya, temen-temenku pendukung Itali lesu ngga bertenaga, hihihi… terlalu dibawa ke hati sih :p.

Maju 4 tahun berikutnya, Piala Eropa di Portugal. Juaranya ngga disangka-sangka adalah Yunani yang berhasil mencetak satu gol (bener ngga ya? rada lupa) di final; dan ngga bisa dibalas Portugal. Yunani yang bukan tim unggulan mengalahkan Portugal di depan ribuan pendukungnya sendiri. Duh, rasanya pasti ngga kebayang kayak apa.. Satu hal yang aku amati adalah kiper Inggris waktu itu, David James, mainnya kurang bagus.

Nah… tahun 2008 masih menyisakan babak semifinal dan final. Apakah yang juara adalah yang sebelumnya pernah juara atau muncul juara baru? Let’s see… banyak kejutan-kejutan tak terduga yang membuat pertandingan di Austri Swiss ini makin menarik untuk ditonton.

Kenapa nyontek? (2)

No Comments »

Sebenarnya ini masih ada kaitan dengan posting sebelumnya. Kali ini aku mau cerita pengalamanku waktu sekolah berkaitan dengan contek-mencontek.

Aku ingat banget salah satu kejadian waktu SMP dulu. Sepulang sekolah, setelah ulangan umum, aku dan 10 orang temanku berencana jalan-jalan ke salah satu mal di Bogor sekalian melepas penat, dan merayakan kebebasan selesai ulangan umum (hehe… namanya anak SMP :P). Selama di angkot, 10 orang temanku berdiskusi dengan seru tentang ulangan umum dan trik-trik mereka nyontek. Aku perhatikan kayaknya mereka makin bangga kalau bisa nyontek di tengah pandangan awas penuh curiga dari golongan pengawas paling berbahaya di sekolah. Lalu, saling pamer kalau ruang mereka ditunggui oleh pengawas yang kurang galak dan memudahkan mereka ngolong, lempar-lempar peluru, dll, dsb. Aku diam aja melihat diskusi yang ngga kalah seru dengan diskusi tentang teman yang baru jadian, teman yang putus, dan gosip-gosip setipe infotainment-lah (hihi… anak SMP… anak SMP). Aku ngga habis pikir, “Kok ngga malu sih nyontek… kok malah bangga?”. Ketika suasana sedikit (beneran sedikiiit…) lebih tenang, aku sampaikan pikiranku ke temen-temenku, “Kok ngga malu sih nyontek?”. Temen-temenku ada yang terdiam, ada yang balas bilang ke aku, “Yee… ngapain malu… biasa lagi… nyontek…”. Abis itu, salah seorang dari kami mengggiring kami semua ke arah pembiacaraan yang lain. Oya… walaupun aku beda prinsip masalah contek-mencontek ini, kami tetap berteman, lho.

Waktu SMA, di lingkungan baru, dengan teman-teman yang 4L(lu lagi lu lagi), keadaan pun tetap sama. Aku ingat banget salah satu teman baikku. Dulu, dia teman sebangkuku. Orangnya baik dan supel. Tapi, dia juga “kadang” mencontek waktu ujian/ulangan. Dia tahu kalau aku ngga suka mencontek. Awalnya, dia cuek aja nyontek pas ulangan. Lama-lama dia jadi grogi kalau mau nyontek dekat-dekat aku. Hihihi… padahal aku ngga ngomong apa-apa, lho. Akhirnya kalau dia mau nyontek, dia pindah tempat duduk ke belakang. Kalau dia ngga nyontek, dia tetap duduk sebangku denganku. Dan waktu terakhir ketemu kemarin (akhir tahun 2007), dia cerita dengan bangga kalau sewaktu kuliah dia ngga nyontek lagi. Wah, aku senang… Aku yakin temanku itu memang pintar dan bisa.

Menjelang akhir SMA, aku cuma geleng-geleng kepala melihat berbagai trik mencontek yang diterapkan temanku menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Daripada susah payah menemukan trik jitu, kenapa waktu, pikiran dan tenaga itu ngga dipakai untuk baca. Beneran deh, waktu pas mau UAN, ada temanku yang memasang tali tipis memanjang dari bangku paling depan ke paling belakang. Tali itu digunakan untuk transfer jawaban. Tapi sepertinya upaya itu ngga mulus karena ruanganku selalu kebagian pengawas yang awas waspada, hehe.

Pikirku, waktu smp, sma sudah berani curang, memikirkan trik-trik tipu-tipu, gimana nanti? Mudah-mudahan sih nantinya bisa berubah jadi orang yang baik dan ngga tipu-tipu lagi.

Kenapa nyontek?

2 Comments »

Kenapa nyontek?

Ada kejadian cukup mengejutkan dan memprihatinkan (menurutku) waktu pertama kali aku koreksi Ujian Akhir. Dari sekitar 105 laporan ujian akhir (ujian akhirnya berupa pengembangan program sederhana plus laporan berkaitan dengan program itu), 80% adalah hasil copy-paste. Shock.. shock… shock… (hehe… rada hiperbola emang). Aku sempat bertanya pada salah satu mahasiswa,

“Kenapa?”

“Anak-anak ngga ngerti, Bu… Mereka sudah biasa mencontek. Dari dulu ya.. kayak gitu. Saya juga serba salah, ngga dikasih contekan, ngga enak sama temen. Nanti dibilang ngga setia kawan. Tapi kalau dikasih juga salah,”

Waduh… satu, mencontek jelas salah. Dua, yang biasa dilakukan belum tentu benar. Tiga, lebih baik dibilang ngga setia kawan atau menjerumuskan teman sendiri? Akhirnya, aku putuskan waktu itu, nilai ujian copy-paste adalah 0. Menurutku, itu termasuk pelanggaran yang cukup berat. Bayangkan… ujian akhir, diberi waktu 14 hari untuk menyelesaikan, soalnya gampang (beneran gampang…), eh… masih copy-paste. Hiks… hiks…

Keputusanku memberi nilai 0 itu diprotes. “Bu, kenapa nilainya begini… Baru kali ini, nilai kuliah jelek-jelek seperti ini,” kata mereka. Jawabku, “Karena sebagian besar tugas Anda hasil copy paste, jadi saya beri nilai 0.” Aku sudah pikirkan dengan baik keputusanku memberi nilai 0. Lebih baik aku tidak luluskan sekarang, supaya mereka mengetahui kalau cara mereka itu salah (harusnya sih udah tau ya… Bukankah sejak kecil kita sudah belajar Agama, PMP, PPKn).

Kenapa sih nyontek? Mungkin salah satunya disebabkan mahasiswa ingin dapat nilai bagus (A) tanpa susah payah belajar, kalau bisa tanpa peras keringat mengerjakan tugas, ujian (hihi… jadi ingat waktu kuliah dulu, rasanya tumpukan tugas ngga habis-habis). Hm… apa mungkin ya… sikap itu timbul karena kurangnya sikap mau kerja keras, mau berjuang, tidak gampang menyerah, dan sadar kalau segala sesuatunya bukan sim salabim?

Sulit memang untuk mengubah kebiasaan mencontek. Sanksi mungkin bisa, tapi tidak efektif karena begitu tidak ada sanksi di mata kuliah lain, metode mencontek lainnya mungkin akan diterapkan. Mungkin yang paling mujarab (:P) adalah masing-masing individu menyadari kesalahan kebiasaan itu dan memperbaikinya (hehe…).

Jadi, kenapa nyontek?

Tempat Menunggu yang Nyaman di Bandara

2 Comments »

Selama setahun belakangan ini, aku dan suami berpergian keluar kota nyaris tiap bulan untuk berbagai keperluan dari mulai yang serius sampai yang sangat serius :-P, dari yang direncanakan sampai yang mendadak, hehe. Biasanya kami pergi dengan pesawat supaya lebih cepat sampai. Tapi yang namanya pergi pakai pesawat, waktu menunggu biasanya lebih lama daripada di dalam pesawatnya.

Untungnya di bandara, disediakan banyak tempat menunggu, ada restoran, toko buku, toko suvenir, dan kafe. Satu hal penting sebelum aku memutuskan menunggu di suatu tempat, aku cari logo “No Smoking” di pintunya, di jendela, di lantai, di atap, atau di manapun yang bisa terlihat. Kalau logo itu terlihat, baru aku masuk. Kalau ngga ada, cari lagi tempat yang lain. Kenapa aku ngga mau di tempat yang dilewati asap rokok? Karena asap rokok itu sangat berefek buat aku. Pertama, kalau menghirup asap rokok, ntah datang dari mana rasa kesal dan kesal. Kedua, aku ngga suka banget asap rokok. Kalau ada orang mau merokok, silakan merokok dengan nyaman dan merusak kesehatan sendiri, tapi jangan sebarkan asapnya ke orang lain yang ngga merokok. Ketiga, alasan kesehatan (std).

Kembali ke topik utama (hehe …). Rekomendasiku untuk tempat menunggu yang nyaman:

  1. Kafe Olala di lantai 2 Terminal F Garuda di Bandara Soekarno Hatta (akses Wi-Fi cuma-cuma)
  2. Kafe (lupa namanya) yang ada kios Baskin Robbins-nya di Terminal Keberangkatan Garuda Bandara Juanda

Kalau menurut Anda, tempat menunggu mana yang paling nyaman di bandara yang pernah Anda kunjungi?

[catatan: list masih bisa bertambah… :-)]

Sabtu Siang di Kampus

No Comments »

Hari Sabtu siang, setelah beres-beres kerjaan di rumah, aku ke kampus. Niatnya mau menyelesaikan kerjaan (yang masih buanyak, hiks…) untuk hari Senin. Tapi… karena niat kurang kuat atau lagi pusing, akhirnya malah main game, Ore No Ryomi. Hehe… std-lah. Game Ore No Ryomi pertama kali aku mainkan waktu jaman-jamannya ngerjain TA thn 2005 lalu. Sempat rada kecanduan selama sekitar sebulan, abis itu ngga pernah main lagi. Ide gamenya menurutku bagus, butuh konsentrasi, trus yang nyebelinnya, ngga bisa di-pause. Satu lagi kurangnya, grafisnya “biasa aja”.

Selesai main game, trus isi blog ini. Dah lama buanget ngga diisi. Tapi karena ngga tau mau nulis apa, akhirnya nulis ngga penting kayak gini. Eh, tapi siapa tau ada terinspirasi gara-gara tulisan ini ya? Misalnya, terinspirasi cari game Ore No Ryomi, trus kecanduan juga, dan siapa tau tertarik untuk mengembangkan game semacam itu (dengan objek yang berbeda tentu). Atau… gara-gara main game Ore No Ryomi, trus terinspirasi dengan implementasi interaksi yang ada di game itu, lalu mengeksplorasi tentang konsep interaksi, attention, dll… Wah.. mengkhayal beneran ini. Tapi kalau ada, syukur Alhamdulillah… tulisan ini bisa bermanfaat.

Sambil nulis ngalor-ngidul, aku download majalah Lowes Creative Idea volume Mar-Apr08. Isi majalahnya tentang ide, tips, dan inspirasi interior rumah dengan peralatan yang ada di rumah dan anggaran yang bersahabat (tapi belum tau ni, bersahabat menurut ukuran siapa, hehe). Kalau ada yang tertarik, majalah itu bisa dilihat di www.lowescreativeideas.com. Banyak artikel-artikel bagus tentang pemanfaatan sisa-sisa/sampah rumah tangga. Sampah itu disulap jadi hiasan yang bagus banget dengan cara yang ngga terlalu sulit (keliatannya sih ngga sulit, hehe).

Abis ini ngapain ya… Kerja lagi ah… Semangat…

Snapshot

No Comments »

Buat yang sering nonton TV, terutama Metro TV di hari Selasa sekitar pukul 8 malam, pasti hapal dengan acara Snapshot. Ide acaranya menayangkan pelanggaran yang umum dilakukan di masyarakat di TV. Misalnya, pelanggaran lalu lintas. Nah, episode tanggal 23 Oktober kemarin mengambil topik penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di masyarakat. Selama 30 menit, acara tsb menampilkan contoh umum kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dan kecenderungan penggunaan bahasa asing di kalangan masyarakat, pejabat, dan artis. Secara eksplisit di acara itu juga disebutkan kalau orang Indonesia kurang pede berbahasa Indonesia dan berulangkali disebutkan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Komentarku: Acaranya bagus dan akan lebih bagus lagi kalau nama acara tersebut juga dibuat dalam bahasa Indonesia (sampai sekarang kata “snapshot” belum terdaftar di KBBI kan?) .

Sakit

No Comments »

Sakit memang ngga enak…

Gara-gara telat makan di hari Senin, hari Selasa - Jumat aku ngga bisa ngapa-ngapain. Istirahat di tempat tidur. Abis makan pagi-siang-malam yang dijadikan satu jadi makan malam, aku dah ngerasa ada yang ngga beres dengan perutku. Eh, bener… besok paginya mual, diare, dan sakit perut. Yang lebih-lebih lagi, ngeliat makanan atau mencium aroma makanan malah membuatku makin mual. Selama 4 hari, aku makan sedikit, itu pun dah dipaksakan supaya ngga makin sakit. Baru kali ini, aku sakit dengan nafsu makan ngga ada sama sekali.

Berhubung aku istirahat cukup lama, aku minta maaf ke mahasiswa-mahasiswa yang ngga bosen dan dengan gigih kring-kring-kring ke hpku untuk urusan bimbingan TA dan tugas kuliah. Duh, maaf banget aku jarang angkat hp, bukannya ngga mau, beberapa kali hpku “hilang” di kamar dan aku nyaris ngga bertenaga buat nyarinya. Begitu juga buat yang kirim email ke aku, maaf belum sempat dibalas. Mohon pengertiannya… (Duh… kayak orang penting aja :p)

Selamat Idul Fitri…

No Comments »

Selamat Idul Fitri