Sadar atau ngga sadar, suka atau ngga suka, sengaja atau ngga sengaja, serius atau bercanda, sedikit atau banyak, kita semua pernah mencela. Celaan kita biasanya ngga jauh dari:
- Celaan mengenai fisik. Misalnya kalau orang kurus, dibilang penyakitan, kerempeng, tiang dibelah tujuh (kenapa tujuh ya? kok ngga delapan, sembilan, atau 1.234.893, hehe… ngga penting). Kalau orang gendut, celaannya lebih bervariasi, mulai dari gajah dipompa yang berkaki gajah, gerombolan siberat, punuk unta berjalan, gelambir lemak hidup (hii… makin aneh), P besar (pinggang, perut, p*n**t). Trus kalau orangnya pendek, hadiah yang diterima ngga jauh dari pendek dan kate. Kalau ada orang yang dianugrahi kulit eksotik alias sawo matang dan turunannya, ucapan yang sering ditujukan kepada yang bersangkutan berkutat seputar item, ireng, gosong, dekil. Dan sangat buanyak aspek fisik yang bisa menginspirasi celaan-celaan kreatif.
- Mengomentari berita dengan dengan kata-kata negatif, cenderung menjelek-jelekkan pihak lain.
- Mengomentari kejadian / event dengan kata-kata bernada merendahkan, seperti tontonan untuk kelas bawah, selera rendah, jorok, ngga tau malu, dasar kampungan, dan lain-lain.
Dilihat dari jenis orang yang mencela, ada dua tipe pencela. Pertama pencela langsung, yang blak-blak-an mencela di depan orang yang dicela. Kedua, pencela tidak langsung. Ilustrasi tipe kedua itu seperti ini:
A membeli suatu benda, B adalah tersangka pencela tidak langsung, dan C adalah pihak ketiga yang mengenal A dan B. B mengetahui A membeli benda dengan merk atau spesifikasi tertentu, katakanlah merk I. Cara B mencela A adalah melalui C. Ketika akan mencela, B memastikan C hadir dan A berada di zona yang memungkinkan A mendengar percakapan B dan C. Yang penting bagi B adalah kehadiran A karena celaan ditujukan untuk A. Dimulailah percakapan B dan C, pertama basa-basi sejenak, lalu ke inti masalah, percakapan bisa seperti ini:
B: “C… C… kamu tau merk I? Merk itu kan sebenarnya jelek, cuma menang nama aja. Performansinya ngga bagus, yang bagus itu merk ABD (misal). Meskipun kalah terkenal, tapi lebih tangguh”
C: “Oo.. gitu ya…” (bingung, kenapa tiba-tiba membicarakan merk I) ![]()
Itu contoh celaan sederhana tapi true story lho, yang ngga ada gunanya dipikirkan A (seandainya A mendengar).
Kejadian cela-mencela selalu melibatkan dua kubu. Kubu pencela dan kubu yang dicela. Sekarang kalau kita berada di kubu pencela. Wah… asik-asik aja nyeplak, jarang pakai mikir-mikir dulu. Dan kadang juga ga peduli dengan perasaan kubu yang dicela. Alasannya bisa karena guyonan untuk mencairkan suasana, ngga ada topik lain, memang bawaan dari sananya punya mulutnya seperti cabai, atau iri dengan orang yang dicelanya (ngaku…. ngaku….
). Kalau kita sebagai pihak yang dicela, tanggapan bisa bervariasi. Ada yang cuek bebek masa bodoh dengan celaan orang, ada yang ngga mikirin karena ngga ngerti lagi dicela, hehe, ada yang ketawa-ketawa menanggapinya, tapi dalam hatinya sebel, ada juga yang eksplisit menyatakan keberatannya.
Waktu cela-mencela spontan dilontarkan adalah ketika berkumpul bersama kerabat atau temen yang sudah beberapa waktu tidak ketemu. Topik favorit biasanya fisik (aku benar-benar heran dengan ini, ngurusin amat ya…). Yang paling sering terdengar, “Wah X, kamu tambah guendut. Lihat perut kemana-mana gitu. Apa lagi hamil?” atau “Kamu kok sekarang item sih? (emang kenapa gitu dengan kulit sawo matang)” atau “Itu muka atau bulan, banyak amat jerawatnya” atau “Naik berapa belas kilo, gendut amat sekarang…” dan lain-lainnya.
Kalau mau mengomentari fisik, alangkah baiknya yang bernada positif tetapi bukan bualan. Misal, “Wah hebat, kapanpun ketemu kamu, kamu selalu sehat. Apa rahasianya tetap sehat? (walaupun sebenarnya orang itu tambah gendut)”. Efeknya akan jauh lebih menyenangkan daripada dikatai gendut. Bisa saja kerabat / teman kita yang makin gendut itu lagi stres, lagi sakit, atau lagi ada masalah berat. Nah, kita yang ngga tau sebenarnya gimana lebih senang mengomentari apa yang kita lihat langsung.
Beberapa kerabat dan teman sering bertanya ketika aku sedang berkumpul bersama mereka, “kok ira diam aja?”. Aku lebih senang diam, memperhatikan yang lain berbicara. Aku khawatir kalau aku terlalu banyak bicara, ada (ada lho… mudah-mudahan ngga semua ;-P ) ucapanku membuat orang lain ngga nyaman, bahkan tersinggung. Aku paham sepaham-pahamnya kalau diserang/disindir pada hal tertentu yang sensi buat aku, aku cenderung menyerang balik. Puas membalas, biasanya malah kepikiran, “harusnya aku ngga ngomong gitu tadi”. Hehe
Nasehat dari suamiku: Omongan yang keluar dari mulut kita harusnya menyejukkan siapapun yang mendengar, tidak menyinggung, tidak membuat rusuh, dan tidak negatif. Kalau tidak bisa, lebih baik diam.

