Archive for April, 2008
Kenapa nyontek? (2)
Sebenarnya ini masih ada kaitan dengan posting sebelumnya. Kali ini aku mau cerita pengalamanku waktu sekolah berkaitan dengan contek-mencontek.
Aku ingat banget salah satu kejadian waktu SMP dulu. Sepulang sekolah, setelah ulangan umum, aku dan 10 orang temanku berencana jalan-jalan ke salah satu mal di Bogor sekalian melepas penat, dan merayakan kebebasan selesai ulangan umum (hehe… namanya anak SMP
). Selama di angkot, 10 orang temanku berdiskusi dengan seru tentang ulangan umum dan trik-trik mereka nyontek. Aku perhatikan kayaknya mereka makin bangga kalau bisa nyontek di tengah pandangan awas penuh curiga dari golongan pengawas paling berbahaya di sekolah. Lalu, saling pamer kalau ruang mereka ditunggui oleh pengawas yang kurang galak dan memudahkan mereka ngolong, lempar-lempar peluru, dll, dsb. Aku diam aja melihat diskusi yang ngga kalah seru dengan diskusi tentang teman yang baru jadian, teman yang putus, dan gosip-gosip setipe infotainment-lah (hihi… anak SMP… anak SMP). Aku ngga habis pikir, “Kok ngga malu sih nyontek… kok malah bangga?”. Ketika suasana sedikit (beneran sedikiiit…) lebih tenang, aku sampaikan pikiranku ke temen-temenku, “Kok ngga malu sih nyontek?”. Temen-temenku ada yang terdiam, ada yang balas bilang ke aku, “Yee… ngapain malu… biasa lagi… nyontek…”. Abis itu, salah seorang dari kami mengggiring kami semua ke arah pembiacaraan yang lain. Oya… walaupun aku beda prinsip masalah contek-mencontek ini, kami tetap berteman, lho.
Waktu SMA, di lingkungan baru, dengan teman-teman yang 4L(lu lagi lu lagi), keadaan pun tetap sama. Aku ingat banget salah satu teman baikku. Dulu, dia teman sebangkuku. Orangnya baik dan supel. Tapi, dia juga “kadang” mencontek waktu ujian/ulangan. Dia tahu kalau aku ngga suka mencontek. Awalnya, dia cuek aja nyontek pas ulangan. Lama-lama dia jadi grogi kalau mau nyontek dekat-dekat aku. Hihihi… padahal aku ngga ngomong apa-apa, lho. Akhirnya kalau dia mau nyontek, dia pindah tempat duduk ke belakang. Kalau dia ngga nyontek, dia tetap duduk sebangku denganku. Dan waktu terakhir ketemu kemarin (akhir tahun 2007), dia cerita dengan bangga kalau sewaktu kuliah dia ngga nyontek lagi. Wah, aku senang… Aku yakin temanku itu memang pintar dan bisa.
Menjelang akhir SMA, aku cuma geleng-geleng kepala melihat berbagai trik mencontek yang diterapkan temanku menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Daripada susah payah menemukan trik jitu, kenapa waktu, pikiran dan tenaga itu ngga dipakai untuk baca. Beneran deh, waktu pas mau UAN, ada temanku yang memasang tali tipis memanjang dari bangku paling depan ke paling belakang. Tali itu digunakan untuk transfer jawaban. Tapi sepertinya upaya itu ngga mulus karena ruanganku selalu kebagian pengawas yang awas waspada, hehe.
Pikirku, waktu smp, sma sudah berani curang, memikirkan trik-trik tipu-tipu, gimana nanti? Mudah-mudahan sih nantinya bisa berubah jadi orang yang baik dan ngga tipu-tipu lagi.
Kenapa nyontek?
Kenapa nyontek?
Ada kejadian cukup mengejutkan dan memprihatinkan (menurutku) waktu pertama kali aku koreksi Ujian Akhir. Dari sekitar 105 laporan ujian akhir (ujian akhirnya berupa pengembangan program sederhana plus laporan berkaitan dengan program itu), 80% adalah hasil copy-paste. Shock.. shock… shock… (hehe… rada hiperbola emang). Aku sempat bertanya pada salah satu mahasiswa,
“Kenapa?”
“Anak-anak ngga ngerti, Bu… Mereka sudah biasa mencontek. Dari dulu ya.. kayak gitu. Saya juga serba salah, ngga dikasih contekan, ngga enak sama temen. Nanti dibilang ngga setia kawan. Tapi kalau dikasih juga salah,”
Waduh… satu, mencontek jelas salah. Dua, yang biasa dilakukan belum tentu benar. Tiga, lebih baik dibilang ngga setia kawan atau menjerumuskan teman sendiri? Akhirnya, aku putuskan waktu itu, nilai ujian copy-paste adalah 0. Menurutku, itu termasuk pelanggaran yang cukup berat. Bayangkan… ujian akhir, diberi waktu 14 hari untuk menyelesaikan, soalnya gampang (beneran gampang…), eh… masih copy-paste. Hiks… hiks…
Keputusanku memberi nilai 0 itu diprotes. “Bu, kenapa nilainya begini… Baru kali ini, nilai kuliah jelek-jelek seperti ini,” kata mereka. Jawabku, “Karena sebagian besar tugas Anda hasil copy paste, jadi saya beri nilai 0.” Aku sudah pikirkan dengan baik keputusanku memberi nilai 0. Lebih baik aku tidak luluskan sekarang, supaya mereka mengetahui kalau cara mereka itu salah (harusnya sih udah tau ya… Bukankah sejak kecil kita sudah belajar Agama, PMP, PPKn).
Kenapa sih nyontek? Mungkin salah satunya disebabkan mahasiswa ingin dapat nilai bagus (A) tanpa susah payah belajar, kalau bisa tanpa peras keringat mengerjakan tugas, ujian (hihi… jadi ingat waktu kuliah dulu, rasanya tumpukan tugas ngga habis-habis). Hm… apa mungkin ya… sikap itu timbul karena kurangnya sikap mau kerja keras, mau berjuang, tidak gampang menyerah, dan sadar kalau segala sesuatunya bukan sim salabim?
Sulit memang untuk mengubah kebiasaan mencontek. Sanksi mungkin bisa, tapi tidak efektif karena begitu tidak ada sanksi di mata kuliah lain, metode mencontek lainnya mungkin akan diterapkan. Mungkin yang paling mujarab (:P) adalah masing-masing individu menyadari kesalahan kebiasaan itu dan memperbaikinya (hehe…).
Jadi, kenapa nyontek?