Kenapa nyontek? (2)


Sebenarnya ini masih ada kaitan dengan posting sebelumnya. Kali ini aku mau cerita pengalamanku waktu sekolah berkaitan dengan contek-mencontek.

Aku ingat banget salah satu kejadian waktu SMP dulu. Sepulang sekolah, setelah ulangan umum, aku dan 10 orang temanku berencana jalan-jalan ke salah satu mal di Bogor sekalian melepas penat, dan merayakan kebebasan selesai ulangan umum (hehe… namanya anak SMP :P ). Selama di angkot, 10 orang temanku berdiskusi dengan seru tentang ulangan umum dan trik-trik mereka nyontek. Aku perhatikan kayaknya mereka makin bangga kalau bisa nyontek di tengah pandangan awas penuh curiga dari golongan pengawas paling berbahaya di sekolah. Lalu, saling pamer kalau ruang mereka ditunggui oleh pengawas yang kurang galak dan memudahkan mereka ngolong, lempar-lempar peluru, dll, dsb. Aku diam aja melihat diskusi yang ngga kalah seru dengan diskusi tentang teman yang baru jadian, teman yang putus, dan gosip-gosip setipe infotainment-lah (hihi… anak SMP… anak SMP). Aku ngga habis pikir, “Kok ngga malu sih nyontek… kok malah bangga?”. Ketika suasana sedikit (beneran sedikiiit…) lebih tenang, aku sampaikan pikiranku ke temen-temenku, “Kok ngga malu sih nyontek?”. Temen-temenku ada yang terdiam, ada yang balas bilang ke aku, “Yee… ngapain malu… biasa lagi… nyontek…”. Abis itu, salah seorang dari kami mengggiring kami semua ke arah pembiacaraan yang lain. Oya… walaupun aku beda prinsip masalah contek-mencontek ini, kami tetap berteman, lho.

Waktu SMA, di lingkungan baru, dengan teman-teman yang 4L(lu lagi lu lagi), keadaan pun tetap sama. Aku ingat banget salah satu teman baikku. Dulu, dia teman sebangkuku. Orangnya baik dan supel. Tapi, dia juga “kadang” mencontek waktu ujian/ulangan. Dia tahu kalau aku ngga suka mencontek. Awalnya, dia cuek aja nyontek pas ulangan. Lama-lama dia jadi grogi kalau mau nyontek dekat-dekat aku. Hihihi… padahal aku ngga ngomong apa-apa, lho. Akhirnya kalau dia mau nyontek, dia pindah tempat duduk ke belakang. Kalau dia ngga nyontek, dia tetap duduk sebangku denganku. Dan waktu terakhir ketemu kemarin (akhir tahun 2007), dia cerita dengan bangga kalau sewaktu kuliah dia ngga nyontek lagi. Wah, aku senang… Aku yakin temanku itu memang pintar dan bisa.

Menjelang akhir SMA, aku cuma geleng-geleng kepala melihat berbagai trik mencontek yang diterapkan temanku menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Daripada susah payah menemukan trik jitu, kenapa waktu, pikiran dan tenaga itu ngga dipakai untuk baca. Beneran deh, waktu pas mau UAN, ada temanku yang memasang tali tipis memanjang dari bangku paling depan ke paling belakang. Tali itu digunakan untuk transfer jawaban. Tapi sepertinya upaya itu ngga mulus karena ruanganku selalu kebagian pengawas yang awas waspada, hehe.

Pikirku, waktu smp, sma sudah berani curang, memikirkan trik-trik tipu-tipu, gimana nanti? Mudah-mudahan sih nantinya bisa berubah jadi orang yang baik dan ngga tipu-tipu lagi.

  1. No comments yet.
(will not be published)