Archive for June, 2008

Sinetron Remaja Indonesia, Riwayatmu Kini…

Judul harus mengesankan dulu, perkara mengesankan baik atau jelek urusan no 1.987.908, hehe …

Awal-awal sinetron remaja ada tahun berapa yah? Sekitar awal 2000-an mungkin ya… waktu aku SMP-SMA. Pertama kali aku lihat, wah… ceritanya kok mirip telenovela ya… cuma bedanya pemainnya lebih muda. Ada intrik, konspirasi yang semuanya berujung pada satu hal, pacar. Trus aku perhatikan, banyak sinetron memunculkan streorotipe murid pintar itu ngga gaul, kuper, kacamatanya 5inchi , kutu buku, nerd, cupu, hobinya cuma belajar dan belajar. Sementara yang dijadikan fokus adalah murid cantik / ganteng dengan segudang fisik yang bagus dengan kecenderungan kurang pintar. Coba aja perhatikan bagaimana si cantik dan si ganteng itu lebih banyak menghabiskan waktu di salon, mal, rumah teman, dan hampir ngga pernah diperlihatkan si cantik/si ganteng itu lagi baca. Atau perhatikan juga setting kamar mereka, aura seorang pelajarnya kurang kliatan.  Bagaimana penonton ngga berpikir kalau si ganteng atau si cantik di sinetron ini rada telmi, belajar aja ngga. Sejenius-jeniusnya orang, masih perlu buka buku, buka internet atau berguru. Belum lagi geng2an yang banyak ditampilkan di sinetron itu. Trus kenapa juga ngga ada sinetron yang fokusnya ke bagaimana anak SMP dan SMA berjuang mati-matian untuk sebuah prestasi atau memperjuangkan idealisme yang benar? Atau paling ngga adegan belajar itu jadi adegan utama gitu, ngga cuma sekedar tempelan untuk membedakan dengan kehidupan cinta orang dewasa (hiii.. bahasanya…).

Komentarku cuma dua kata, ngga banget plus…

Pertama, stereotipe yang tidak adil bertebaran di sinetron itu.

Dua, sisi positifnya ada juga sih dari sinetron-sinetron itu, yaitu mengajarkan untuk tidak mudah menyerah. Tapi harusnya pantang menyerah itu bukan cuma untuk urusan cinta remaja antara pemudi dan pemuda belasan tahun (duh kayak aku umur berapa aja ya, padahal baru aja lewat dari usia belasan…), tapi juga untuk banyak hal lainnya, seperti hubungan keluarga, kegiatan akademik, pertemanan, kegiatan sosial, dan masih buanyak lagi kegiatan positif yang bisa dilakukan waktu remaja. Pantang menyerah pun juga jangan sampai menghalalkan segala cara, termasuk cara curang

Tiga, ngga kelihatan di sinetron itu kalau remaja itu mau berusaha dan berjuang untuk mencapai tujuan seharusnya seorang pelajar. Mereka hanya jadi pejuang tangguh ketika berhubungan dengan pacar. Secara tersurat (atau tersirat ya?) usaha untuk berprestasi hampir tidak pernah jadi tema sentral di sebuah sintron remaja. Hal-hal selain urusan pacar adalah nomor 3685 dan bisa diselesaikan dengan gampang.

Empat, kekerasan yang pelakunya adalah remaja itu sendiri. Ketika ada orang yang dianggap terlalu cantik dan mengancam kepopuleran geng terkenal atau dikhawatirkan pacar ketua geng direbut oleh orang cantik itu, dimulailah intimidasi fisik dan psikis keorang bermasalah itu. Bener-bener deh, ngga penting sama sekali dan sangat sangat berbahaya. Bagaimana kalau perilaku…, wah… ngga tau deh nyebutnya apa, dijadikan inspirasi oleh pelajar SMP SMA? Apa seperti kasus Geng Nero di Pati itu?
Untuk kasus sinetron dan TV, uang memang segalanya. Ketika hal-hal negatif memang lebih dianggap lebih menguntungkan, itulah yang akan ditampilkan tanpa mempedulikan luas dan besarnya efek kartu domino yang muncul di masyarakat. Sangat berbahaya.

No Comments

Piala Eropa 2008

Hampir 2 minggu belakangan, jadwal tidurku ngga jelas, hehe. Terlebih lagi waktu babak perempat final 4 hari kemarin, duh… Tiap pertandingan disiarkan jam 1 pagi dan hampir semuanya diselesaikan lebih dari 2 x 45 menit. Berdua sama uda, kami gantian tidur, kalau suara komentatornya mulai meninggi dan bersemangat, kami bangun… Artinya pertanda akan terjadi gol (walaupun lebih sering ngga jadi gol, hehe). Dan, hasil akhir perempat final, Jerman, Turki, Rusia, dan Spanyol maju ke babak berikutnya.

Dua tim yang aku pegang, Prancis dan Kroasia ternyata hanya terhenti sampai perempatfinal, bahkan Prancis ngga lolos ke babak dua. Kata uda: “mungkin ada semacam “kutukan”, Ra… tiap negara yang ira jagokan akan kalah, hahahaha.” Huh… biarin, masih bisa pindah jagoan.

Aku menjagokan Prancis karena prestasi mereka di Piala Dunia 2006 yang bisa mengalahkan Brazil (1-0). Kalau Kroasia, aku lebih kenal tim Kroasia lebih dulu daripada tim Prancis. Pertama kali aku lihat skuad Kroasia bermain adalah di Piala Eropa 1996 (Tahun 96, aku masih SD, nontonnya setelah semua orang di rumah tidur, abis belum boleh begadang. Kalau tahun 96 aku SD, berarti sekarang aku masih muda, :p hehehe). Tim Kroasia berhasil maju sampai babak semifinal. Di semifinal, mereka dikalahkan Rep. Ceko (aku lupa skornya…). Dan akhirnya, Jerman jadi juara. Waktu itu, Davor Suker dan Juergen Klinsmann masih memperkuat Kroasia dan tim Jerman.

Lanjut ke Piala Dunia 2000. Aku lihat pertandingkan final Prancis vs Itali di pulau Bidadari, waktu liburan satu angkatan SMA plus guru-gurunya.  Sebelum pertandingan, atmosfer yang sebelumnya ceria, penuh tawa-tawa ngga jelas, tiba-tiba berubah jadi kaku dan tegang. Tiap orang berkumpul sesuai dengan tim jagoannya. Kalau diingat-ingat lucu banget… Siapa yang bertanding, siapa yang heboh. Suporter asli dari Itali dan Prancis aja masih bisa ketawa sama-sama (aku lihat liputannya di TV). Besok paginya, temen-temenku pendukung Itali lesu ngga bertenaga, hihihi… terlalu dibawa ke hati sih :p.

Maju 4 tahun berikutnya, Piala Eropa di Portugal. Juaranya ngga disangka-sangka adalah Yunani yang berhasil mencetak satu gol (bener ngga ya? rada lupa) di final; dan ngga bisa dibalas Portugal. Yunani yang bukan tim unggulan mengalahkan Portugal di depan ribuan pendukungnya sendiri. Duh, rasanya pasti ngga kebayang kayak apa.. Satu hal yang aku amati adalah kiper Inggris waktu itu, David James, mainnya kurang bagus.

Nah… tahun 2008 masih menyisakan babak semifinal dan final. Apakah yang juara adalah yang sebelumnya pernah juara atau muncul juara baru? Let’s see… banyak kejutan-kejutan tak terduga yang membuat pertandingan di Austri Swiss ini makin menarik untuk ditonton.

No Comments