Hampir 2 minggu belakangan, jadwal tidurku ngga jelas, hehe. Terlebih lagi waktu babak perempat final 4 hari kemarin, duh… Tiap pertandingan disiarkan jam 1 pagi dan hampir semuanya diselesaikan lebih dari 2 x 45 menit. Berdua sama uda, kami gantian tidur, kalau suara komentatornya mulai meninggi dan bersemangat, kami bangun… Artinya pertanda akan terjadi gol (walaupun lebih sering ngga jadi gol, hehe). Dan, hasil akhir perempat final, Jerman, Turki, Rusia, dan Spanyol maju ke babak berikutnya.
Dua tim yang aku pegang, Prancis dan Kroasia ternyata hanya terhenti sampai perempatfinal, bahkan Prancis ngga lolos ke babak dua. Kata uda: “mungkin ada semacam “kutukan”, Ra… tiap negara yang ira jagokan akan kalah, hahahaha.” Huh… biarin, masih bisa pindah jagoan.
Aku menjagokan Prancis karena prestasi mereka di Piala Dunia 2006 yang bisa mengalahkan Brazil (1-0). Kalau Kroasia, aku lebih kenal tim Kroasia lebih dulu daripada tim Prancis. Pertama kali aku lihat skuad Kroasia bermain adalah di Piala Eropa 1996 (Tahun 96, aku masih SD, nontonnya setelah semua orang di rumah tidur, abis belum boleh begadang. Kalau tahun 96 aku SD, berarti sekarang aku masih muda, :p hehehe). Tim Kroasia berhasil maju sampai babak semifinal. Di semifinal, mereka dikalahkan Rep. Ceko (aku lupa skornya…). Dan akhirnya, Jerman jadi juara. Waktu itu, Davor Suker dan Juergen Klinsmann masih memperkuat Kroasia dan tim Jerman.
Lanjut ke Piala Dunia 2000. Aku lihat pertandingkan final Prancis vs Itali di pulau Bidadari, waktu liburan satu angkatan SMA plus guru-gurunya. Sebelum pertandingan, atmosfer yang sebelumnya ceria, penuh tawa-tawa ngga jelas, tiba-tiba berubah jadi kaku dan tegang. Tiap orang berkumpul sesuai dengan tim jagoannya. Kalau diingat-ingat lucu banget… Siapa yang bertanding, siapa yang heboh. Suporter asli dari Itali dan Prancis aja masih bisa ketawa sama-sama (aku lihat liputannya di TV). Besok paginya, temen-temenku pendukung Itali lesu ngga bertenaga, hihihi… terlalu dibawa ke hati sih :p.
Maju 4 tahun berikutnya, Piala Eropa di Portugal. Juaranya ngga disangka-sangka adalah Yunani yang berhasil mencetak satu gol (bener ngga ya? rada lupa) di final; dan ngga bisa dibalas Portugal. Yunani yang bukan tim unggulan mengalahkan Portugal di depan ribuan pendukungnya sendiri. Duh, rasanya pasti ngga kebayang kayak apa.. Satu hal yang aku amati adalah kiper Inggris waktu itu, David James, mainnya kurang bagus.
Nah… tahun 2008 masih menyisakan babak semifinal dan final. Apakah yang juara adalah yang sebelumnya pernah juara atau muncul juara baru? Let’s see… banyak kejutan-kejutan tak terduga yang membuat pertandingan di Austri Swiss ini makin menarik untuk ditonton.