Archive for October, 2008
Rokok, di mana-mana Rokok
Peristiwa 1: Siang hari di sebuah angkot yang padat dan pengap…
Aku duduk di bagian paling dalam dan di depanku ada dua orang bapak-bapak. Istimewanya kedua orang bapak tadi merokok. Asapnya bergulung-gulung kena mukaku. Bete… Aku ambil tisu untuk menutupi hidungku (dengan rada provokatif juga sih.) supaya asap rokoknya rada terhalang dan yang lebih penting lagi supaya bapak-bapak tadi segera mematikan rokoknya. Yah… ngga perlu dibuanglah kalau sayang banget ama rokok itu, cukup matikan sementara selama di angkot karena waktu itu di angkot sangat pengap, penuh, dan cuaca terik di luar ditambah jendelanya ngga bisa dibuka. Aku jelas sengsara.
Ternyata oh… ternyata setelah aku nutup muka pakai tisu, tetap ngga ada pengaruhnya. Aku lihat mata kedua orang bapak tadi, kayaknya ngga peduli, malah makin asik mengisap rokoknya. Duh tambah bete… Aku keluarkan buku dari tas lalu aku kipas-kipaskan di depan mukaku untuk menghalau asap rokok supaya kembali ke bapak tadi. Harusnya kalau merokok tanggung konsekuensinya dong. Jangan membuat sengsara orang lain. Kalau mau merusak kesehatan ya sendiri aja, orang lain ngga usah dibawa-bawa. Dalam hati aku rada cemas juga karena tindakanku makin provokatif tapi aku gemes banget sama bapak-bapak itu. Dalam ruangan pengap, jendela tertutup, seenak perutnya aja merokok. Apa ngga bisa ditahan sebentar ngga merokok selama di angkot? Paling lama juga 30 menit.
Ajaib… kedua orang bapak tadi tetap asik merokok. Kok bisa ngga peka gitu ya. Aku mau negur bapak-bapak itu juga mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, aku masih sma kelas 1, bisa-bisa aku balas dihardik. Kedua, waktu itu aku lagi pergi sendiri, nanti kalau bapak-bapak itu ngga terima, bisa-bisa aku tambah sengsara. Beberapa menit kemudian, aku ngga kuat lagi menghirup racun, aku tegur kedua bapak itu.
Aku: “Pak, maaf saya terganggu dengan asap rokok ini.”
Bapak A: “Oh…..”
Aku menunggu reaksi bapak itu, ternyata masih sempat menghembuskan asapnya. Duh… sabar… sabar…. Setelah beberapa menit, akhirnya rokok itu dimatikan, Alhamdulillah. Tapi karena aku masih sangat-sangat jengkel, aku nanya lagi,
Aku : ” Pak, kenapa sih merokok? Itu kan bahaya… paru-paru bisa rusak, jantung bermasalah.”
Bapak 1: “Abis gimana, Neng… udah dari dulu, ngga bisa berenti”
Bapak 2 hanya melihat kami mengobrol.
Aku cuma berharap segera turun dari angkot.
Periatiwa 2: Rapat di suatu perusahaan dalam ruangan besar dan ber-AC
Aku harus presentasi bersama kedua orang temanku di hadapan staf dan pimpinan mengenai kemajuan suatu proyek. Di tengah acara, ketika temanku sedang menjelaskan fitur dalam proyek tersebut, aku mencium bau-bau mengganggu yang aku hapal banget. Ya… bau asap rokok. Aku penasaran ingin tahun siapa sih orang yang nekat merokok di ruangan ber-AC di tengah-tengah rapat?
Tengok kiri, clear, ngga ada yang merokok. Tengok kanan juga clear. Palingkan muka ke belakang (pura-pura mengambil sesuatu di tas), clear. Hm… mungkin hidungku yang salah. Tapi aku amati beberapa orang di ruangan itu rada gelisah karena ada sesuatu yang mengganggu, mirip denganku. Eh, pas lihat ke depan, baru terlihat siapa tersangkanya, bos perusahaan. Pantesan ngga ada yang protes.
Huff… sabar sabar sabar. Aku rada tahan napas karena asapnya makin menyebar di satu ruangan AC itu. Pas aku lihat ke depan, hore… rokoknya sudah pendek. Lalu… Alhamdulillah dah habis dan dimatikan. Hihi.. bisa konsentrasi lagi.
Tapi….. masya Allah, beliau membuka bungkus rokoknya dan ambil satu, lalu dinyalakan. Harus atur napas lagi nih. Sampai selesai rapat (lebih kurang 3 jam), beliau tidak berhenti merokok. Begitu rapat dibubarkan, aku segera ke toilet. Aku ngga suka banget, pakaian dan jilbabku bau asap rokok, ngga banget. Untungnya tiap keluar rumah aku selalu bawa pewangi, spray, cologne atau apapun namanya itu untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Aku semprotkan banyak-banyak ke baju dan jilbabku. Aku ngga merokok, ngga suka rokok, ngga suka asapnya, tapi bajuku bisa berbau asap rokok.
Peristiwa 3: Saat bertamu ke rumah orang
Suatu siang yang cerah, aku dan suamiku bertamu ke rumah teman suamiku yang sudah lama tidak bertemu. Tuan rumah mempersilakan kami masuk, sangat ramah dan menyenangkan. Eh, di tengah-tengah obrolan, sang tuan rumah mengeluarkan batang putih pendek 9 cm, didekatkan ke korek api, lalu asap pun mulai mencemari udara di ruang tamu yang asri itu.
Hiiiiiii….. males banget sih, dimanapun aku pergi selalu ketemu perokok. Di sisa obrolan, aku berusaha keras menahan diri supaya mukaku ngga kelihatan tersiksa. Aku tamu dan baru sekali itu bertamu ke rumah itu. Dalam hati aku berharap supaya kami segera pamit karena aku ngga kuat dengan asap rokoknya.
Jadi…
Coba deh ketika kita sedang berada di luar rumah, pilih acak 10 orang di sekitar kita. Sangat susah menemukan kesepuluh orang itu tidak sedang merokok.
Harapanku sih, tolong kalau merokok itu ngga di sembarangan tempat. Hak tiap orang untuk mengatur hidupnya masing-masing termasuk menghancurkan kesehatannya sendiri. Tapi kalau ingin merusak kesehatan jangan seret orang lain (yang mau hidup sehat) dengan merokok seenaknya. Silakan lakukan sendiri di tempat yang memungkinkan untuk itu. Merokok memang hak tiap orang, beli rokok juga pakai uang sendiri, tapi udara yang mengelilingi kita bukan hanya milik perokok.
IM2 Broom Broadband Prabayar

Setelah kemarin baca berita tentang peluncuran IM2 Broadband unlimited hanya dengan 100.000 per bulan (IM2 Broom Unlimited), aku sempatkan ke Bandung Electronic Mall (BEC) siang tadi. Aku tertarik dan ingin tahu lebih lanjut. Kalau benar bisa online tanpa kuota dengan 100.000 per bulan, wah… boleh dicoba nih. Selain itu, aku juga ngga terlalu mempermasalahkan kecepatan aksesnya (asal masih wajar), yang lebih penting kestabilan dan ngga putus-putus atau muncul pesan “Connection Interrupted” di Firefox, hehe.
Begitu masuk BEC, di lobi depan, sudah ada stan Indosat 3,5G. Kebetulan nih, mungkin jual IM2 Broom. Aku mendekat ke stan itu dan bertanya tentang Indosat 3,5G. Hm… ternyata berbeda. Kalau Indosat 3,5G itu ada paket Eco, paket … (aku lupa, kalau ngga salah ada 4 paket) yang harganya mulai dari 160.000 sampai 1.000.000-an. Perasaanku bukan ini yang ada di iklan semalam. Biar ngga penasaran, aku tanya ke penjaga stan, “Mbak, bedanya layanan ini dengan layanan IM2 apa?”
Mbak penjaga stan (MTS): Oh, kalau IM2 anak perusahaannya Indosat.
Aku: (masih diam sambil menunggu lanjutan penjelasan…)
Setelah kira-kira sepuluh detik ngga ada lanjutan penjelasan, aku menyimpulkan penjaga stan Indosat itu belum tentang IM2 Broom. Lalu, aku bilang terima kasih dan segera pergi dari situ menuju ke lantai atas.
Di lantai 2 dan 3 (aku ngga hapal penamaan lantai di BEC, yang jelas dua lantai yang menjual komputer dan aksesorisnya) banyak toko yang menjual starter pack dan voucher isi ulang IM2 Broadband, tapi kok informasi yang aku dapat adalah kuota sekian untuk nominal voucher sekian (yang terbesar itu kuota 300 MB untuk voucher Rp 150.000). Wah… jangan-jangan kemarin aku salah baca iklan, atau salah mengerti ya, hehe. Aku tanya ke pegawai toko, eh… rada diacuhkan. Dia lebih sibuk melayani pengunjung lain yang kelihatannya sudah pasti mau beli sesuatu. Ngga jadi deh…
Pas aku mau keluar BEC, di dekat eskalator di lantai pertama yang menjual komputer dan aksesorisnya, aku lihat ada stan IM2 Broom. Wah, ini yang aku lihat di iklan kemarin. Lalu, aku tanya ke penjaga stannya tentang IM2 Broom. Ternyata IM2 Broom itu ada dua versi, Classic dan Unlimited.
- Classic, nominal vouchernya mulai dari 10.000 (kuota 16 MB) sampai 150.000 (kuota 300 MB)
- Unlimited, pembayaran bulanannya Rp 100.000. Kecepatan aksesnya maksimal 256 Kbps (prabayar) dan 384 Kbps (pascabayar) sampai kuota data 2 GB. Setelah kuota 2 GB terlampaui, akses internet masih tetap bisa dilakukan tanpa tambahan biaya, tapi kecepatannya diturunkan menjadi maksimal 64 Kbps. Untuk yang prabayar, tiap bulan harus mengisi voucher Rp 100.000 kalau masih ingin melanjutkan akses IM2 Broom.
Hm… ngga ada salahnya dicoba. Aku beli starter packnya, harganya Rp 150.000 (termasuk voucher Rp 100.000), lalu aktivasi di tempat.
Malamnya, aku coba mengakses internet dengan IM2 Broom di laptop. Awalnya ngga bisa. Trus aku coba di ponsel (SE K530i)… dan bisa. Akhirnya setelah sedikit konfigurasi di laptop dan SE K530i, IM2 Broom bisa aku nikmati di laptop.
Barusan aku tes kecepatan download dan uploadnya (sekitar pukul 22.35), kecepatannya mencapai 240 Kbps (download) dan 46 Kbps (upload). Sampai sekarang (pukul 00.30) koneksinya belum terputus. Good… mudah-mudahan kalau nanti penggunanya makin banyak, kualitas IM2 Broom bisa dipertahankan, kalau bisa sih ditingkatkan, hehe…
Kuliah hari ini…
Posted by Ira in Kuliah, Sistem Informasi on 15/10/2008
Yang paling aku inget dari kuliah hari ini adalah cerita tentang cita-cita menjadi orang pas-pas-an. Pas ingin mobil, ada mobil, Pas mau rumah, rumah tersedia, pas mau buka toko, modal sudah siap, pas mau menguras isi toko dengan cara legal, sudah ada tumpukan kartu kredit/debit setinggi 10 cm, hehe
.
Tapi bagaimana jika kondisi sekarang (current) berada di pas-pasan sebenarnya? Nah, selisih antara cita cita (to be/required) yang “pas-pasan” dengan kondisi sekarang (as is/current) yang pas-pasan sebenarnya, itulah yang disebut dengan gap. Bagaimana caranya mengatasi gap itu? Tergantung strategi masing-masing. kalau untuk contoh di atas, salah satu strategi untuk mencapai cita-cita adalah mencari pasangan berkepribadian tinggi. Artinya, punya mobil pribadi, rumah pribadi, kalau perlu pasar pribadi, hehe
.
Cerita di atas muncul ketika sedang membahas evaluasi gap antara lingkungan TI yang ada saat ini di organisasi dengan kebutuhan IT yang diperlukan untuk mencapai objektif organisasi tsb. Oh, iya, posisi TI di organisasi tsb sebagai supporting, bukan sebagai core business organisasi.
Maksud supporting business artinya IT digunakan untuk memperlancar operasional sehari-hari organisasi, meningkatkan keunggulan organisasi, dan membuka peluang bisnis baru atau perluasan dari bisnis yang sudah ada. Misalnya di suatu studio desain yang bisnis utamanya adalah membuat desain sesuai dengan permintaan, investasi IT (komputer, server, peralatan instalasi jaringan & internet, dan bermacam-macam software desain grafis) diadakan supaya studio desain tersebut bisa menghasilkan desain yang berkualitas tepat waktu. Kemudian dengan adanya internet, studio desain dapat memasang portofolionya dengan mudah dan menjangkau calon konsumen lebih banyak lebih luas. Dampak yang diharapkan tentu saja makin banyak kontrak kerja yang mengalir ke studio tersebut. Kalau IT sebagai core business itu contohnya di perusahaan Microsoft, Cisco, Dell, de el el yang bisnis utamanya adalah menjual produk-produk IT.
Kembali ke topik awal, memangnya kenapa perlu dievaluasi? Kalau tidak dievaluasi kan tidak bisa diketahui posisi lingkungan IT yang sekarang terhadap yang dibutuhkan. Selama ini, banyak organisasi yang menganggap investasi IT itu menghabiskan anggaran tapi dampaknya nyaris tak terasa. Penyebabnya karena perencanaan dan penyusunan rencana investasi IT tidak disesuaikan dengan kebutuhan IT, proses bisnis, dan tujuan organisasi. Selain itu, umumnya belanja IT adalah belanja teknologi baru. Padahal teknologi tersebut bisa jadi terlalu canggih atau tidak dibutuhkan. Yang lebih ekstrim, ada organisasi yang tidak mempunyai daftar kebutuhan IT sehingga belanja IT lebih disebabkan karena merasa butuh semua (diperkuat dengan marketing vendor yang agresif).
Setelah dievalusi, baru dapat ditentukan ada tidaknya gap. Kalau ada gap, maka dapat ditentukan strategi untuk menghilangkan gap tersebut. Salah satu strateginya adalah memahami tujuan organisasi, kemudian identifikasi proses bisnis apa yang harus dilakukan organisasi agar tujuan tercapai. Periksa efektivitas proses tersebut. Jika perlu, lakukan ESIA (Eliminate, Simplify, Integrate, Automate) proses bisnis. Dari proses bisnis lakukan pemetaan kebutuhan IT untuk mengoptimalkan output yang dihasilkan. Terakhir, membuat rencana investasi IT sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Itu lebih kurang yang aku ingat tentang kuliah hari ini.