Rokok, di mana-mana Rokok
Peristiwa 1: Siang hari di sebuah angkot yang padat dan pengap…
Aku duduk di bagian paling dalam dan di depanku ada dua orang bapak-bapak. Istimewanya kedua orang bapak tadi merokok. Asapnya bergulung-gulung kena mukaku. Bete… Aku ambil tisu untuk menutupi hidungku (dengan rada provokatif juga sih.) supaya asap rokoknya rada terhalang dan yang lebih penting lagi supaya bapak-bapak tadi segera mematikan rokoknya. Yah… ngga perlu dibuanglah kalau sayang banget ama rokok itu, cukup matikan sementara selama di angkot karena waktu itu di angkot sangat pengap, penuh, dan cuaca terik di luar ditambah jendelanya ngga bisa dibuka. Aku jelas sengsara.
Ternyata oh… ternyata setelah aku nutup muka pakai tisu, tetap ngga ada pengaruhnya. Aku lihat mata kedua orang bapak tadi, kayaknya ngga peduli, malah makin asik mengisap rokoknya. Duh tambah bete… Aku keluarkan buku dari tas lalu aku kipas-kipaskan di depan mukaku untuk menghalau asap rokok supaya kembali ke bapak tadi. Harusnya kalau merokok tanggung konsekuensinya dong. Jangan membuat sengsara orang lain. Kalau mau merusak kesehatan ya sendiri aja, orang lain ngga usah dibawa-bawa. Dalam hati aku rada cemas juga karena tindakanku makin provokatif tapi aku gemes banget sama bapak-bapak itu. Dalam ruangan pengap, jendela tertutup, seenak perutnya aja merokok. Apa ngga bisa ditahan sebentar ngga merokok selama di angkot? Paling lama juga 30 menit.
Ajaib… kedua orang bapak tadi tetap asik merokok. Kok bisa ngga peka gitu ya. Aku mau negur bapak-bapak itu juga mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, aku masih sma kelas 1, bisa-bisa aku balas dihardik. Kedua, waktu itu aku lagi pergi sendiri, nanti kalau bapak-bapak itu ngga terima, bisa-bisa aku tambah sengsara. Beberapa menit kemudian, aku ngga kuat lagi menghirup racun, aku tegur kedua bapak itu.
Aku: “Pak, maaf saya terganggu dengan asap rokok ini.”
Bapak A: “Oh…..”
Aku menunggu reaksi bapak itu, ternyata masih sempat menghembuskan asapnya. Duh… sabar… sabar…. Setelah beberapa menit, akhirnya rokok itu dimatikan, Alhamdulillah. Tapi karena aku masih sangat-sangat jengkel, aku nanya lagi,
Aku : ” Pak, kenapa sih merokok? Itu kan bahaya… paru-paru bisa rusak, jantung bermasalah.”
Bapak 1: “Abis gimana, Neng… udah dari dulu, ngga bisa berenti”
Bapak 2 hanya melihat kami mengobrol.
Aku cuma berharap segera turun dari angkot.
Periatiwa 2: Rapat di suatu perusahaan dalam ruangan besar dan ber-AC
Aku harus presentasi bersama kedua orang temanku di hadapan staf dan pimpinan mengenai kemajuan suatu proyek. Di tengah acara, ketika temanku sedang menjelaskan fitur dalam proyek tersebut, aku mencium bau-bau mengganggu yang aku hapal banget. Ya… bau asap rokok. Aku penasaran ingin tahun siapa sih orang yang nekat merokok di ruangan ber-AC di tengah-tengah rapat?
Tengok kiri, clear, ngga ada yang merokok. Tengok kanan juga clear. Palingkan muka ke belakang (pura-pura mengambil sesuatu di tas), clear. Hm… mungkin hidungku yang salah. Tapi aku amati beberapa orang di ruangan itu rada gelisah karena ada sesuatu yang mengganggu, mirip denganku. Eh, pas lihat ke depan, baru terlihat siapa tersangkanya, bos perusahaan. Pantesan ngga ada yang protes.
Huff… sabar sabar sabar. Aku rada tahan napas karena asapnya makin menyebar di satu ruangan AC itu. Pas aku lihat ke depan, hore… rokoknya sudah pendek. Lalu… Alhamdulillah dah habis dan dimatikan. Hihi.. bisa konsentrasi lagi.
Tapi….. masya Allah, beliau membuka bungkus rokoknya dan ambil satu, lalu dinyalakan. Harus atur napas lagi nih. Sampai selesai rapat (lebih kurang 3 jam), beliau tidak berhenti merokok. Begitu rapat dibubarkan, aku segera ke toilet. Aku ngga suka banget, pakaian dan jilbabku bau asap rokok, ngga banget. Untungnya tiap keluar rumah aku selalu bawa pewangi, spray, cologne atau apapun namanya itu untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Aku semprotkan banyak-banyak ke baju dan jilbabku. Aku ngga merokok, ngga suka rokok, ngga suka asapnya, tapi bajuku bisa berbau asap rokok.
Peristiwa 3: Saat bertamu ke rumah orang
Suatu siang yang cerah, aku dan suamiku bertamu ke rumah teman suamiku yang sudah lama tidak bertemu. Tuan rumah mempersilakan kami masuk, sangat ramah dan menyenangkan. Eh, di tengah-tengah obrolan, sang tuan rumah mengeluarkan batang putih pendek 9 cm, didekatkan ke korek api, lalu asap pun mulai mencemari udara di ruang tamu yang asri itu.
Hiiiiiii….. males banget sih, dimanapun aku pergi selalu ketemu perokok. Di sisa obrolan, aku berusaha keras menahan diri supaya mukaku ngga kelihatan tersiksa. Aku tamu dan baru sekali itu bertamu ke rumah itu. Dalam hati aku berharap supaya kami segera pamit karena aku ngga kuat dengan asap rokoknya.
Jadi…
Coba deh ketika kita sedang berada di luar rumah, pilih acak 10 orang di sekitar kita. Sangat susah menemukan kesepuluh orang itu tidak sedang merokok.
Harapanku sih, tolong kalau merokok itu ngga di sembarangan tempat. Hak tiap orang untuk mengatur hidupnya masing-masing termasuk menghancurkan kesehatannya sendiri. Tapi kalau ingin merusak kesehatan jangan seret orang lain (yang mau hidup sehat) dengan merokok seenaknya. Silakan lakukan sendiri di tempat yang memungkinkan untuk itu. Merokok memang hak tiap orang, beli rokok juga pakai uang sendiri, tapi udara yang mengelilingi kita bukan hanya milik perokok.






Iya mas febdi ya, parah tuw.. aku laki2. tapi aku paling anti ma rokok. Memang sebagian laki2 di dunia ini tukang ngerusak.. kadang aku juga klo dah ga tahan, langsung pasang tampang sangar trus say samtin “mas, tolong saya phobia dengan rokok.” alhamdulillah kebanyakan sih pada senyum takut trus ngacir..