Archive for November, 2008
A.S.E.P
Aku suka pusing sendiri kalau ditanya “asalmu dari mana, Ra?”
Kalau ditanya begitu, jawaban seperti apa yang diharapkan ya… Apakah asal daerah? asal suku? asal tempat tinggal? asal suami? asal orang tua? atau asal apa? Masalahnya, pertanyaan asal ini sering ditujukan. Selama ini sih… asumsiku asal daerah atau asal suku. Jawabanku biasanya bervariasi, bukan bermaksud bohong, tapi karena aku bingung menjawabnya dan juga dilihat dari situasi dan kondisi.
1. “Dari rumah…” atau “Dari Indonesia”
Kalau lagi ngasal dan asbun, biasanya itu jawabanku, hehe.
2.”Dari Bogor” atau “dari Surabaya”
Itu jawabku kalau yang nanyanya terlihat basa-basi. Bogor karena orang tuaku tinggal di Bogor, sedangkan Surabaya karena suamiku, rumah sementara, dan pekerjaanku di Surabaya.
3. “Dari Makassar”
Karena kakek dari pihak Papa adalah orang Makassar. Read the rest of this entry »
Sekolah Nilai
Apa jadinya kalau motivasi sekolah / kuliah berorientasi pada nilai?
1. Plagiarisme jadi budaya
Baik dalam skala kecil-kecilan, nyontek waktu ujian, copycat tugas, sampai skala tidak termaafkan, seperti plagiat penelitian orang lain sebagai karya Penelitian, Tugas Akhir, Paper, Tesis, Disertasi pribadi.
2. Googling untuk mencari solusi yang sudah jadi atau sudah pernah dibuat orang lain
Biasanya googling kita tujukan untuk mencari sumber/acuan/referensi yang akan diolah lebih lanjut untuk membantu kita menjawab suatu permasalahan. Nah, biasanya orang-orang yang mau nilai bagus tanpa susah payah (dengan berbagai macam alasan, dari alasan ngga banget sampai alasan yang mm… yah… okelah… tapi seharusnya ngga begitu) akan mencari solusi / jawaban, dan syukur-syukur kalau ketemu, tinggal dipoles sana sini, tidak lupa dibubuhkan nama pribadi. Sumber / referensi yang diperoleh dari mbah Google tentu saja tidak disertakan, nanti ketahuan dong kalau hasil polesan.
3. Mencari hasil laporan / tugas / evaluasi dari kakak kelas
Dengan harapan dosen memberi tugas serupa dengan topik atau contoh kasus sama, maka solusi sudah tersedia. Kalau rajin dan ada waktu, solusi dari tahun lalu itu dipoles, diubah kalimatnya, diubah struktur penulisannya. Kalau udah kepepet ngga ada waktu, tinggal ubah identitas sambil berdoa supaya dosen lupa pernah ada solusi yang sama tahun lalu.
4. Kreatif mencari sumber jawaban / solusi
Misalnya nih, laporan perusahaan ditransfer mentah-mentah jadi laporan tugas kuliah untuk tugas yang topiknya relevan dengan laporan perusahaan tersebut. Polesannya biasanya di bentuk permodelannya. Misalnya, kalau laporan asli punya perusahaan pakai model A, maka di tugas menggunakan model yang diminta oleh Dosen.
5. Memanipulasi hasil survey
Kadang tugas kuliah ada yang jenisnya survey melalui kuesioner, wawancara, sampling dokumen. Demi untuk nilai tinggi, maka hasil kuesioner, wawancara tadi dipermak sedemikian tupa sehingga hasilnya bagus, nilainya tinggi, dan sesuai dengan teori yang disampaikan di kelas.
Jadi
Masih banyak 1001 cara lain yang rela ditempuh demi nilai tinggi. Siapa saja yang terkena gejala orientasi nilai? Semua bisa kena, murid SMP, SMA, mahasiswa sarjana, dan mahasiswa pasca sarjana. Aku sendiri berusaha dengan sekeras-kerasnya berada di luar itu. Sungguh amat sayang sekali (contoh frase tidak efektif, sudah ada amat ditambah sekali, hehe ^^) kalau nilai dijadikan satu-satunya tolak ukur keberhasilan sekolah.
Tugas Menyenangkan
Posted by Ira in Jalan-jalan on 10/11/2008
Awal minggu ini aku dapat tugas menyenangkan dari suami, apakah itu? Melengkapi kebutuhan primer nomor 2, pakaian, kostum, baju, dan yang berkaitan dengan itu. Hehehehehe…… senang dong? Pasti, sebagai istri yang baik, apapun tugas dari suami harus dilaksanakan dengan senang hati
Uda juga mempercayakan ke aku untuk pergi ke toko dan memilih sendiri pakaian yang akan aku beli. Hm… rasanya ada yang kurang nih kalau pergi sendiri, biasanya kalau belanja hampir selalu bareng Uda. Yang kurang itu, ngga ada orang yang berisik meminta cepat-cepat pulang, atau ngga ada orang yang mukanya cemberut seperti anak yang ngga dibelikan mainan yang sudah diincar sejak pertama kali dilihat, hehe.
Pengalamanku pergi sama uda ke pasar / mal, biasanya yang terjadi adalah:
Bertanya “Mau beli, Ra?” ketika aku sedang asyik mengamati suatu pakaian
Kalau aku jawab ngga, biasanya disambung dengan kalimat “Kalau ngga akan dibeli, ngga usah dilihat-lihat. Terus aja cari di rak lainnya. Kalau udah ketemu, ambil, coba, dan bayar.” Waduh… salah satu usaha untuk memilih baju yang akan dibeli itu ya dengan mengamati bajunya, hehe. Lagian mumpung lihat baju masih gratis, kenapa ngga? Nah, kalau kalimat itu sudah keluar 3x, biasanya aku muterin toko, ngelirik kandidat pakaian yang mau aku beli dari jauh tanpa mendekati rak pakaian itu. Kalau dah dua kali mengelilingi toko, uda ngomong lagi “Ra, kalau gini caranya, ngga bakalan dapat baju yang mau dibeli.” Aku cuma bisa geleng-geleng bola mataku, dilihat salah, ngga ada yang dilihat juga diprotes.
Berkata “udah gitu aja? Ngga ada yang dibeli?” ketika aku memutuskan keluar dari toko pakaian tanpa membeli apapun
Biasanya kalau aku dah keluar toko, berarti ya sudah selesai, ngga ada yang dibeli. Abis itu pernyataanku disambung dengan, “Dari tadi 4 jam di sini, 14 kali mengelilingi toko, trus ngga ada yang dibeli? Padahal uda sudah merelakan perut uda keroncongan dari tadi, kaki sakit juga ngga uda pedulikan, demi memenuhi keinginan istri yang mau beli pakaian.” Duh… segitunya. Pertama, di toko itu ngga selama 4 jam, tapi 1 jam lebih 179 menit, hehe… ngga ding, yang benar adalah setengah jam (menurut perasaanku). Kedua, mengelilingi tokonya 1,5 kali, bukan 14 kali. Ketiga, sebelum pergi ke toko, biasanya kami mengisi perut dulu dan keempat, masa baru jalan sebentar, kaki dah sakit. Hehe…
Tidak banyak bicara selama menemani aku
Nah, kalau sudah seperti ini, aku yang waswas sendiri. Biasanya kan uda berisik kalau udah menemani aku belanja, kok tiba-tiba jadi pendiam begini. Trus kalau ditanya, jawabannya pendek-pendek. Misalnya,
“Uda cape?”
“Ngga, Ra” jawab uda, atau
“Uda, ira mau lihat-lihat yang itu, boleh?”
“Boleh Ra…” jawab uda. Tumben pikirku, biasanya uda suka pura-pura menghela napas panjang seolah-olah sudah berjam-jam kita di toko (padahal sebenarnya baru 5 menit). Atau muka uda cemberut sambil bilang, “iya boleh, emang uda punya pilihan apalagi.”
Kalau uda sudah diam begitu, aku yang jadi ngga tenang. Duh, jangan-jangan uda ini lagi sakit beneran, tapi ngga mau bilang supaya bisa tetap menemani aku (kege-eran banget ya aku ini… Tapi awas aja kalau ngga begitu, hehe). Atau jangan-jangan uda lagi kesel karena aku lama banget dan daripada marah-marah, uda memilih diam? Karena ngga tenang, aku memutuskan untuk menyudahi saja acara belanja baju.
Sampai di luar toko, mendadak uda jadi ngga pendiam lagi dan lebih ceria daripada sebelumnya. Hm… begitu ya …
Jadi
Dengan bermacam-macam ulah uda itu, justru acara belanja terasa lebih seru, hehe.
Desain Greenys
Pertama kali aku punya blog tahun 2006, isinya… nyaris ngga ada, hehe. Alasannya klasik banget, karena ngga sempat diisi dan belum tertarik. Trus tiap kali aku tertarik untuk mengisi blog, mengatur setting blog, aku selalu lupa id login ke ira.febdian.net (alamat blog ini), hehe. Kenapa bisa lupa? Apalagi kalau bukan karena terlalu lama dianggurkan.
Tiap kali mau memperbaiki blog, biasanya aku selalu merepotkan Henhen melalui Uda. Mulai mereset id login, menginstal WordPress, memasukkan theme. Hehe, maaf nih hobi banget ngerepotin. Bukannya ngga bisa sendiri, tapi kalau koneksi internet lambat, jadi malas ngutak-ngatik ini itu (alasan memang banyak :p ).
Sejak situs febdian.net diperbarui dan migrasi ke WordPress, aku juga memperbarui desain blog ini. Supaya seragam tapi tetap beda (gimana itu caranya??) aku pakai desain Bluemist. Desain bluemist ini di-supply oleh Henhen.
Kesimpulannya… terima kasih banyak untuk Henhen yang tidak henti-hentinya direpotkan oleh kami berdua, maaf kalau kami terlalu merepotkan, tapi jangan khawatir kehilangan kami karena kami (terutama Uda) ngga pernah bosan merepotkan Henhen. Hehe… yang sabar ya… menghadapi kami