Archive for category Keranjang Rotan
Sinetron Remaja Indonesia, Riwayatmu Kini…
Posted by Ira in Keranjang Rotan on 23/06/2008
Judul harus mengesankan dulu, perkara mengesankan baik atau jelek urusan no 1.987.908, hehe …
Awal-awal sinetron remaja ada tahun berapa yah? Sekitar awal 2000-an mungkin ya… waktu aku SMP-SMA. Pertama kali aku lihat, wah… ceritanya kok mirip telenovela ya… cuma bedanya pemainnya lebih muda. Ada intrik, konspirasi yang semuanya berujung pada satu hal, pacar. Trus aku perhatikan, banyak sinetron memunculkan streorotipe murid pintar itu ngga gaul, kuper, kacamatanya 5inchi , kutu buku, nerd, cupu, hobinya cuma belajar dan belajar. Sementara yang dijadikan fokus adalah murid cantik / ganteng dengan segudang fisik yang bagus dengan kecenderungan kurang pintar. Coba aja perhatikan bagaimana si cantik dan si ganteng itu lebih banyak menghabiskan waktu di salon, mal, rumah teman, dan hampir ngga pernah diperlihatkan si cantik/si ganteng itu lagi baca. Atau perhatikan juga setting kamar mereka, aura seorang pelajarnya kurang kliatan. Bagaimana penonton ngga berpikir kalau si ganteng atau si cantik di sinetron ini rada telmi, belajar aja ngga. Sejenius-jeniusnya orang, masih perlu buka buku, buka internet atau berguru. Belum lagi geng2an yang banyak ditampilkan di sinetron itu. Trus kenapa juga ngga ada sinetron yang fokusnya ke bagaimana anak SMP dan SMA berjuang mati-matian untuk sebuah prestasi atau memperjuangkan idealisme yang benar? Atau paling ngga adegan belajar itu jadi adegan utama gitu, ngga cuma sekedar tempelan untuk membedakan dengan kehidupan cinta orang dewasa (hiii.. bahasanya…).
Komentarku cuma dua kata, ngga banget plus…
Pertama, stereotipe yang tidak adil bertebaran di sinetron itu.
Dua, sisi positifnya ada juga sih dari sinetron-sinetron itu, yaitu mengajarkan untuk tidak mudah menyerah. Tapi harusnya pantang menyerah itu bukan cuma untuk urusan cinta remaja antara pemudi dan pemuda belasan tahun (duh kayak aku umur berapa aja ya, padahal baru aja lewat dari usia belasan…), tapi juga untuk banyak hal lainnya, seperti hubungan keluarga, kegiatan akademik, pertemanan, kegiatan sosial, dan masih buanyak lagi kegiatan positif yang bisa dilakukan waktu remaja. Pantang menyerah pun juga jangan sampai menghalalkan segala cara, termasuk cara curang
Tiga, ngga kelihatan di sinetron itu kalau remaja itu mau berusaha dan berjuang untuk mencapai tujuan seharusnya seorang pelajar. Mereka hanya jadi pejuang tangguh ketika berhubungan dengan pacar. Secara tersurat (atau tersirat ya?) usaha untuk berprestasi hampir tidak pernah jadi tema sentral di sebuah sintron remaja. Hal-hal selain urusan pacar adalah nomor 3685 dan bisa diselesaikan dengan gampang.
Empat, kekerasan yang pelakunya adalah remaja itu sendiri. Ketika ada orang yang dianggap terlalu cantik dan mengancam kepopuleran geng terkenal atau dikhawatirkan pacar ketua geng direbut oleh orang cantik itu, dimulailah intimidasi fisik dan psikis keorang bermasalah itu. Bener-bener deh, ngga penting sama sekali dan sangat sangat berbahaya. Bagaimana kalau perilaku…, wah… ngga tau deh nyebutnya apa, dijadikan inspirasi oleh pelajar SMP SMA? Apa seperti kasus Geng Nero di Pati itu?
Untuk kasus sinetron dan TV, uang memang segalanya. Ketika hal-hal negatif memang lebih dianggap lebih menguntungkan, itulah yang akan ditampilkan tanpa mempedulikan luas dan besarnya efek kartu domino yang muncul di masyarakat. Sangat berbahaya.
Snapshot
Posted by Ira in Keranjang Rotan on 27/10/2007
Buat yang sering nonton TV, terutama Metro TV di hari Selasa sekitar pukul 8 malam, pasti hapal dengan acara Snapshot. Ide acaranya menayangkan pelanggaran yang umum dilakukan di masyarakat di TV. Misalnya, pelanggaran lalu lintas. Nah, episode tanggal 23 Oktober kemarin mengambil topik penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di masyarakat. Selama 30 menit, acara tsb menampilkan contoh umum kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dan kecenderungan penggunaan bahasa asing di kalangan masyarakat, pejabat, dan artis. Secara eksplisit di acara itu juga disebutkan kalau orang Indonesia kurang pede berbahasa Indonesia dan berulangkali disebutkan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Komentarku: Acaranya bagus dan akan lebih bagus lagi kalau nama acara tersebut juga dibuat dalam bahasa Indonesia (sampai sekarang kata “snapshot” belum terdaftar di KBBI kan?) .