Archive for category Kuliah
Sekolah Nilai
Apa jadinya kalau motivasi sekolah / kuliah berorientasi pada nilai?
1. Plagiarisme jadi budaya
Baik dalam skala kecil-kecilan, nyontek waktu ujian, copycat tugas, sampai skala tidak termaafkan, seperti plagiat penelitian orang lain sebagai karya Penelitian, Tugas Akhir, Paper, Tesis, Disertasi pribadi.
2. Googling untuk mencari solusi yang sudah jadi atau sudah pernah dibuat orang lain
Biasanya googling kita tujukan untuk mencari sumber/acuan/referensi yang akan diolah lebih lanjut untuk membantu kita menjawab suatu permasalahan. Nah, biasanya orang-orang yang mau nilai bagus tanpa susah payah (dengan berbagai macam alasan, dari alasan ngga banget sampai alasan yang mm… yah… okelah… tapi seharusnya ngga begitu) akan mencari solusi / jawaban, dan syukur-syukur kalau ketemu, tinggal dipoles sana sini, tidak lupa dibubuhkan nama pribadi. Sumber / referensi yang diperoleh dari mbah Google tentu saja tidak disertakan, nanti ketahuan dong kalau hasil polesan.
3. Mencari hasil laporan / tugas / evaluasi dari kakak kelas
Dengan harapan dosen memberi tugas serupa dengan topik atau contoh kasus sama, maka solusi sudah tersedia. Kalau rajin dan ada waktu, solusi dari tahun lalu itu dipoles, diubah kalimatnya, diubah struktur penulisannya. Kalau udah kepepet ngga ada waktu, tinggal ubah identitas sambil berdoa supaya dosen lupa pernah ada solusi yang sama tahun lalu.
4. Kreatif mencari sumber jawaban / solusi
Misalnya nih, laporan perusahaan ditransfer mentah-mentah jadi laporan tugas kuliah untuk tugas yang topiknya relevan dengan laporan perusahaan tersebut. Polesannya biasanya di bentuk permodelannya. Misalnya, kalau laporan asli punya perusahaan pakai model A, maka di tugas menggunakan model yang diminta oleh Dosen.
5. Memanipulasi hasil survey
Kadang tugas kuliah ada yang jenisnya survey melalui kuesioner, wawancara, sampling dokumen. Demi untuk nilai tinggi, maka hasil kuesioner, wawancara tadi dipermak sedemikian tupa sehingga hasilnya bagus, nilainya tinggi, dan sesuai dengan teori yang disampaikan di kelas.
Jadi
Masih banyak 1001 cara lain yang rela ditempuh demi nilai tinggi. Siapa saja yang terkena gejala orientasi nilai? Semua bisa kena, murid SMP, SMA, mahasiswa sarjana, dan mahasiswa pasca sarjana. Aku sendiri berusaha dengan sekeras-kerasnya berada di luar itu. Sungguh amat sayang sekali (contoh frase tidak efektif, sudah ada amat ditambah sekali, hehe ^^) kalau nilai dijadikan satu-satunya tolak ukur keberhasilan sekolah.
Kuliah hari ini…
Posted by Ira in Kuliah, Sistem Informasi on 15/10/2008
Yang paling aku inget dari kuliah hari ini adalah cerita tentang cita-cita menjadi orang pas-pas-an. Pas ingin mobil, ada mobil, Pas mau rumah, rumah tersedia, pas mau buka toko, modal sudah siap, pas mau menguras isi toko dengan cara legal, sudah ada tumpukan kartu kredit/debit setinggi 10 cm, hehe
.
Tapi bagaimana jika kondisi sekarang (current) berada di pas-pasan sebenarnya? Nah, selisih antara cita cita (to be/required) yang “pas-pasan” dengan kondisi sekarang (as is/current) yang pas-pasan sebenarnya, itulah yang disebut dengan gap. Bagaimana caranya mengatasi gap itu? Tergantung strategi masing-masing. kalau untuk contoh di atas, salah satu strategi untuk mencapai cita-cita adalah mencari pasangan berkepribadian tinggi. Artinya, punya mobil pribadi, rumah pribadi, kalau perlu pasar pribadi, hehe
.
Cerita di atas muncul ketika sedang membahas evaluasi gap antara lingkungan TI yang ada saat ini di organisasi dengan kebutuhan IT yang diperlukan untuk mencapai objektif organisasi tsb. Oh, iya, posisi TI di organisasi tsb sebagai supporting, bukan sebagai core business organisasi.
Maksud supporting business artinya IT digunakan untuk memperlancar operasional sehari-hari organisasi, meningkatkan keunggulan organisasi, dan membuka peluang bisnis baru atau perluasan dari bisnis yang sudah ada. Misalnya di suatu studio desain yang bisnis utamanya adalah membuat desain sesuai dengan permintaan, investasi IT (komputer, server, peralatan instalasi jaringan & internet, dan bermacam-macam software desain grafis) diadakan supaya studio desain tersebut bisa menghasilkan desain yang berkualitas tepat waktu. Kemudian dengan adanya internet, studio desain dapat memasang portofolionya dengan mudah dan menjangkau calon konsumen lebih banyak lebih luas. Dampak yang diharapkan tentu saja makin banyak kontrak kerja yang mengalir ke studio tersebut. Kalau IT sebagai core business itu contohnya di perusahaan Microsoft, Cisco, Dell, de el el yang bisnis utamanya adalah menjual produk-produk IT.
Kembali ke topik awal, memangnya kenapa perlu dievaluasi? Kalau tidak dievaluasi kan tidak bisa diketahui posisi lingkungan IT yang sekarang terhadap yang dibutuhkan. Selama ini, banyak organisasi yang menganggap investasi IT itu menghabiskan anggaran tapi dampaknya nyaris tak terasa. Penyebabnya karena perencanaan dan penyusunan rencana investasi IT tidak disesuaikan dengan kebutuhan IT, proses bisnis, dan tujuan organisasi. Selain itu, umumnya belanja IT adalah belanja teknologi baru. Padahal teknologi tersebut bisa jadi terlalu canggih atau tidak dibutuhkan. Yang lebih ekstrim, ada organisasi yang tidak mempunyai daftar kebutuhan IT sehingga belanja IT lebih disebabkan karena merasa butuh semua (diperkuat dengan marketing vendor yang agresif).
Setelah dievalusi, baru dapat ditentukan ada tidaknya gap. Kalau ada gap, maka dapat ditentukan strategi untuk menghilangkan gap tersebut. Salah satu strateginya adalah memahami tujuan organisasi, kemudian identifikasi proses bisnis apa yang harus dilakukan organisasi agar tujuan tercapai. Periksa efektivitas proses tersebut. Jika perlu, lakukan ESIA (Eliminate, Simplify, Integrate, Automate) proses bisnis. Dari proses bisnis lakukan pemetaan kebutuhan IT untuk mengoptimalkan output yang dihasilkan. Terakhir, membuat rencana investasi IT sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Itu lebih kurang yang aku ingat tentang kuliah hari ini.
What a Week …
Akhirnya… jumat datang… Trus, kalau jumat kenapa? Karena aku suka hari Jumat… Walaupun hari seninnya akan ada banyak tugas, kerjaan, atau apapun namanya… aku tetap suka hari Jumat.
Minggu ini diawali dengan tantangan baru buat aku, tantangan mengendalikan emosi, kesabaran, dan menerima hasil yang ngga sesuai harapan. Awalnya, aku sulit menerima hasil yang ngga sesuai dengan target (padahal targetnya pun bukan target muluk-muluk). Aku bersungguh-sungguh, tapi karena didominasi usaha-usaha lain yang asal jadi, minimalis, dan yang penting beres, hasil akhirnya jadi jauh panggang dari api. Yah… ngga jauh-jauh amat sih panggangnya, masih terasa hawa panasnya…. (Apa sih ??).
Untungnya… (masih tetap untung), aku jadi berlatih menghadapi orang lain yang berbeda denganku, belajar memahami keterbatasan orang lain, dan mengelola emosi dan pikiranku (hihihi…) supaya menjadi lebih baik. Tapi…. tapi… tetap aku sulit menerima dengan lapang dada usaha “copy paste” atau usaha “yang penting beres”.
Aku masih harus banyak belajar…, banyak sabar …
Kenapa nyontek? (2)
Sebenarnya ini masih ada kaitan dengan posting sebelumnya. Kali ini aku mau cerita pengalamanku waktu sekolah berkaitan dengan contek-mencontek.
Aku ingat banget salah satu kejadian waktu SMP dulu. Sepulang sekolah, setelah ulangan umum, aku dan 10 orang temanku berencana jalan-jalan ke salah satu mal di Bogor sekalian melepas penat, dan merayakan kebebasan selesai ulangan umum (hehe… namanya anak SMP
). Selama di angkot, 10 orang temanku berdiskusi dengan seru tentang ulangan umum dan trik-trik mereka nyontek. Aku perhatikan kayaknya mereka makin bangga kalau bisa nyontek di tengah pandangan awas penuh curiga dari golongan pengawas paling berbahaya di sekolah. Lalu, saling pamer kalau ruang mereka ditunggui oleh pengawas yang kurang galak dan memudahkan mereka ngolong, lempar-lempar peluru, dll, dsb. Aku diam aja melihat diskusi yang ngga kalah seru dengan diskusi tentang teman yang baru jadian, teman yang putus, dan gosip-gosip setipe infotainment-lah (hihi… anak SMP… anak SMP). Aku ngga habis pikir, “Kok ngga malu sih nyontek… kok malah bangga?”. Ketika suasana sedikit (beneran sedikiiit…) lebih tenang, aku sampaikan pikiranku ke temen-temenku, “Kok ngga malu sih nyontek?”. Temen-temenku ada yang terdiam, ada yang balas bilang ke aku, “Yee… ngapain malu… biasa lagi… nyontek…”. Abis itu, salah seorang dari kami mengggiring kami semua ke arah pembiacaraan yang lain. Oya… walaupun aku beda prinsip masalah contek-mencontek ini, kami tetap berteman, lho.
Waktu SMA, di lingkungan baru, dengan teman-teman yang 4L(lu lagi lu lagi), keadaan pun tetap sama. Aku ingat banget salah satu teman baikku. Dulu, dia teman sebangkuku. Orangnya baik dan supel. Tapi, dia juga “kadang” mencontek waktu ujian/ulangan. Dia tahu kalau aku ngga suka mencontek. Awalnya, dia cuek aja nyontek pas ulangan. Lama-lama dia jadi grogi kalau mau nyontek dekat-dekat aku. Hihihi… padahal aku ngga ngomong apa-apa, lho. Akhirnya kalau dia mau nyontek, dia pindah tempat duduk ke belakang. Kalau dia ngga nyontek, dia tetap duduk sebangku denganku. Dan waktu terakhir ketemu kemarin (akhir tahun 2007), dia cerita dengan bangga kalau sewaktu kuliah dia ngga nyontek lagi. Wah, aku senang… Aku yakin temanku itu memang pintar dan bisa.
Menjelang akhir SMA, aku cuma geleng-geleng kepala melihat berbagai trik mencontek yang diterapkan temanku menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Daripada susah payah menemukan trik jitu, kenapa waktu, pikiran dan tenaga itu ngga dipakai untuk baca. Beneran deh, waktu pas mau UAN, ada temanku yang memasang tali tipis memanjang dari bangku paling depan ke paling belakang. Tali itu digunakan untuk transfer jawaban. Tapi sepertinya upaya itu ngga mulus karena ruanganku selalu kebagian pengawas yang awas waspada, hehe.
Pikirku, waktu smp, sma sudah berani curang, memikirkan trik-trik tipu-tipu, gimana nanti? Mudah-mudahan sih nantinya bisa berubah jadi orang yang baik dan ngga tipu-tipu lagi.
Kenapa nyontek?
Kenapa nyontek?
Ada kejadian cukup mengejutkan dan memprihatinkan (menurutku) waktu pertama kali aku koreksi Ujian Akhir. Dari sekitar 105 laporan ujian akhir (ujian akhirnya berupa pengembangan program sederhana plus laporan berkaitan dengan program itu), 80% adalah hasil copy-paste. Shock.. shock… shock… (hehe… rada hiperbola emang). Aku sempat bertanya pada salah satu mahasiswa,
“Kenapa?”
“Anak-anak ngga ngerti, Bu… Mereka sudah biasa mencontek. Dari dulu ya.. kayak gitu. Saya juga serba salah, ngga dikasih contekan, ngga enak sama temen. Nanti dibilang ngga setia kawan. Tapi kalau dikasih juga salah,”
Waduh… satu, mencontek jelas salah. Dua, yang biasa dilakukan belum tentu benar. Tiga, lebih baik dibilang ngga setia kawan atau menjerumuskan teman sendiri? Akhirnya, aku putuskan waktu itu, nilai ujian copy-paste adalah 0. Menurutku, itu termasuk pelanggaran yang cukup berat. Bayangkan… ujian akhir, diberi waktu 14 hari untuk menyelesaikan, soalnya gampang (beneran gampang…), eh… masih copy-paste. Hiks… hiks…
Keputusanku memberi nilai 0 itu diprotes. “Bu, kenapa nilainya begini… Baru kali ini, nilai kuliah jelek-jelek seperti ini,” kata mereka. Jawabku, “Karena sebagian besar tugas Anda hasil copy paste, jadi saya beri nilai 0.” Aku sudah pikirkan dengan baik keputusanku memberi nilai 0. Lebih baik aku tidak luluskan sekarang, supaya mereka mengetahui kalau cara mereka itu salah (harusnya sih udah tau ya… Bukankah sejak kecil kita sudah belajar Agama, PMP, PPKn).
Kenapa sih nyontek? Mungkin salah satunya disebabkan mahasiswa ingin dapat nilai bagus (A) tanpa susah payah belajar, kalau bisa tanpa peras keringat mengerjakan tugas, ujian (hihi… jadi ingat waktu kuliah dulu, rasanya tumpukan tugas ngga habis-habis). Hm… apa mungkin ya… sikap itu timbul karena kurangnya sikap mau kerja keras, mau berjuang, tidak gampang menyerah, dan sadar kalau segala sesuatunya bukan sim salabim?
Sulit memang untuk mengubah kebiasaan mencontek. Sanksi mungkin bisa, tapi tidak efektif karena begitu tidak ada sanksi di mata kuliah lain, metode mencontek lainnya mungkin akan diterapkan. Mungkin yang paling mujarab (:P) adalah masing-masing individu menyadari kesalahan kebiasaan itu dan memperbaikinya (hehe…).
Jadi, kenapa nyontek?