Archive for category Opini
The best job in the world
I’ve just watched short interview with Anna Wintour on TV yesterday. She said that she had the best job in the world. I envy her. Not because her significant influence in fashion industry today nor her magnificent income (hehe), but for her love and great passion to do the job very well.
If we love our job, everyday is a holiday. Double happiness for doing what we love as a daily routine and raising income.
On the contrary, if we against our job, we’ll miss holiday everyday. If we can’t enjoy doing the job, for some cases, quit is not the most wise option. Perhaps we could do something as:
- list all positive things from our job,
- try to enjoy what we must do,
- think the holiday plan, imagine our dream destination, cool…
- turn down the old think melon, like I hate Monday, my job is not fun, I supposed to work somewhere else, etc. This is not easy, but doable,
- change our mindset, maybe the problem is inside ourselves.
Anyway, I wonder then, when the next nearest “cuti bersama”? Hehe…
Mulutmu Harimaumu
Sadar atau ngga sadar, suka atau ngga suka, sengaja atau ngga sengaja, serius atau bercanda, sedikit atau banyak, kita semua pernah mencela. Celaan kita biasanya ngga jauh dari:
- Celaan mengenai fisik. Misalnya kalau orang kurus, dibilang penyakitan, kerempeng, tiang dibelah tujuh (kenapa tujuh ya? kok ngga delapan, sembilan, atau 1.234.893, hehe… ngga penting). Kalau orang gendut, celaannya lebih bervariasi, mulai dari gajah dipompa yang berkaki gajah, gerombolan siberat, punuk unta berjalan, gelambir lemak hidup (hii… makin aneh), P besar (pinggang, perut, p*n**t). Trus kalau orangnya pendek, hadiah yang diterima ngga jauh dari pendek dan kate. Kalau ada orang yang dianugrahi kulit eksotik alias sawo matang dan turunannya, ucapan yang sering ditujukan kepada yang bersangkutan berkutat seputar item, ireng, gosong, dekil. Dan sangat buanyak aspek fisik yang bisa menginspirasi celaan-celaan kreatif.
- Mengomentari berita dengan dengan kata-kata negatif, cenderung menjelek-jelekkan pihak lain.
- Mengomentari kejadian / event dengan kata-kata bernada merendahkan, seperti tontonan untuk kelas bawah, selera rendah, jorok, ngga tau malu, dasar kampungan, dan lain-lain. Read the rest of this entry »
A.S.E.P
Aku suka pusing sendiri kalau ditanya “asalmu dari mana, Ra?”
Kalau ditanya begitu, jawaban seperti apa yang diharapkan ya… Apakah asal daerah? asal suku? asal tempat tinggal? asal suami? asal orang tua? atau asal apa? Masalahnya, pertanyaan asal ini sering ditujukan. Selama ini sih… asumsiku asal daerah atau asal suku. Jawabanku biasanya bervariasi, bukan bermaksud bohong, tapi karena aku bingung menjawabnya dan juga dilihat dari situasi dan kondisi.
1. “Dari rumah…” atau “Dari Indonesia”
Kalau lagi ngasal dan asbun, biasanya itu jawabanku, hehe.
2.”Dari Bogor” atau “dari Surabaya”
Itu jawabku kalau yang nanyanya terlihat basa-basi. Bogor karena orang tuaku tinggal di Bogor, sedangkan Surabaya karena suamiku, rumah sementara, dan pekerjaanku di Surabaya.
3. “Dari Makassar”
Karena kakek dari pihak Papa adalah orang Makassar. Read the rest of this entry »
Sekolah Nilai
Apa jadinya kalau motivasi sekolah / kuliah berorientasi pada nilai?
1. Plagiarisme jadi budaya
Baik dalam skala kecil-kecilan, nyontek waktu ujian, copycat tugas, sampai skala tidak termaafkan, seperti plagiat penelitian orang lain sebagai karya Penelitian, Tugas Akhir, Paper, Tesis, Disertasi pribadi.
2. Googling untuk mencari solusi yang sudah jadi atau sudah pernah dibuat orang lain
Biasanya googling kita tujukan untuk mencari sumber/acuan/referensi yang akan diolah lebih lanjut untuk membantu kita menjawab suatu permasalahan. Nah, biasanya orang-orang yang mau nilai bagus tanpa susah payah (dengan berbagai macam alasan, dari alasan ngga banget sampai alasan yang mm… yah… okelah… tapi seharusnya ngga begitu) akan mencari solusi / jawaban, dan syukur-syukur kalau ketemu, tinggal dipoles sana sini, tidak lupa dibubuhkan nama pribadi. Sumber / referensi yang diperoleh dari mbah Google tentu saja tidak disertakan, nanti ketahuan dong kalau hasil polesan.
3. Mencari hasil laporan / tugas / evaluasi dari kakak kelas
Dengan harapan dosen memberi tugas serupa dengan topik atau contoh kasus sama, maka solusi sudah tersedia. Kalau rajin dan ada waktu, solusi dari tahun lalu itu dipoles, diubah kalimatnya, diubah struktur penulisannya. Kalau udah kepepet ngga ada waktu, tinggal ubah identitas sambil berdoa supaya dosen lupa pernah ada solusi yang sama tahun lalu.
4. Kreatif mencari sumber jawaban / solusi
Misalnya nih, laporan perusahaan ditransfer mentah-mentah jadi laporan tugas kuliah untuk tugas yang topiknya relevan dengan laporan perusahaan tersebut. Polesannya biasanya di bentuk permodelannya. Misalnya, kalau laporan asli punya perusahaan pakai model A, maka di tugas menggunakan model yang diminta oleh Dosen.
5. Memanipulasi hasil survey
Kadang tugas kuliah ada yang jenisnya survey melalui kuesioner, wawancara, sampling dokumen. Demi untuk nilai tinggi, maka hasil kuesioner, wawancara tadi dipermak sedemikian tupa sehingga hasilnya bagus, nilainya tinggi, dan sesuai dengan teori yang disampaikan di kelas.
Jadi
Masih banyak 1001 cara lain yang rela ditempuh demi nilai tinggi. Siapa saja yang terkena gejala orientasi nilai? Semua bisa kena, murid SMP, SMA, mahasiswa sarjana, dan mahasiswa pasca sarjana. Aku sendiri berusaha dengan sekeras-kerasnya berada di luar itu. Sungguh amat sayang sekali (contoh frase tidak efektif, sudah ada amat ditambah sekali, hehe ^^) kalau nilai dijadikan satu-satunya tolak ukur keberhasilan sekolah.
Rokok, di mana-mana Rokok
Peristiwa 1: Siang hari di sebuah angkot yang padat dan pengap…
Aku duduk di bagian paling dalam dan di depanku ada dua orang bapak-bapak. Istimewanya kedua orang bapak tadi merokok. Asapnya bergulung-gulung kena mukaku. Bete… Aku ambil tisu untuk menutupi hidungku (dengan rada provokatif juga sih.) supaya asap rokoknya rada terhalang dan yang lebih penting lagi supaya bapak-bapak tadi segera mematikan rokoknya. Yah… ngga perlu dibuanglah kalau sayang banget ama rokok itu, cukup matikan sementara selama di angkot karena waktu itu di angkot sangat pengap, penuh, dan cuaca terik di luar ditambah jendelanya ngga bisa dibuka. Aku jelas sengsara.
Ternyata oh… ternyata setelah aku nutup muka pakai tisu, tetap ngga ada pengaruhnya. Aku lihat mata kedua orang bapak tadi, kayaknya ngga peduli, malah makin asik mengisap rokoknya. Duh tambah bete… Aku keluarkan buku dari tas lalu aku kipas-kipaskan di depan mukaku untuk menghalau asap rokok supaya kembali ke bapak tadi. Harusnya kalau merokok tanggung konsekuensinya dong. Jangan membuat sengsara orang lain. Kalau mau merusak kesehatan ya sendiri aja, orang lain ngga usah dibawa-bawa. Dalam hati aku rada cemas juga karena tindakanku makin provokatif tapi aku gemes banget sama bapak-bapak itu. Dalam ruangan pengap, jendela tertutup, seenak perutnya aja merokok. Apa ngga bisa ditahan sebentar ngga merokok selama di angkot? Paling lama juga 30 menit.
Ajaib… kedua orang bapak tadi tetap asik merokok. Kok bisa ngga peka gitu ya. Aku mau negur bapak-bapak itu juga mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, aku masih sma kelas 1, bisa-bisa aku balas dihardik. Kedua, waktu itu aku lagi pergi sendiri, nanti kalau bapak-bapak itu ngga terima, bisa-bisa aku tambah sengsara. Beberapa menit kemudian, aku ngga kuat lagi menghirup racun, aku tegur kedua bapak itu.
Aku: “Pak, maaf saya terganggu dengan asap rokok ini.”
Bapak A: “Oh…..”
Aku menunggu reaksi bapak itu, ternyata masih sempat menghembuskan asapnya. Duh… sabar… sabar…. Setelah beberapa menit, akhirnya rokok itu dimatikan, Alhamdulillah. Tapi karena aku masih sangat-sangat jengkel, aku nanya lagi,
Aku : ” Pak, kenapa sih merokok? Itu kan bahaya… paru-paru bisa rusak, jantung bermasalah.”
Bapak 1: “Abis gimana, Neng… udah dari dulu, ngga bisa berenti”
Bapak 2 hanya melihat kami mengobrol.
Aku cuma berharap segera turun dari angkot.
Periatiwa 2: Rapat di suatu perusahaan dalam ruangan besar dan ber-AC
Aku harus presentasi bersama kedua orang temanku di hadapan staf dan pimpinan mengenai kemajuan suatu proyek. Di tengah acara, ketika temanku sedang menjelaskan fitur dalam proyek tersebut, aku mencium bau-bau mengganggu yang aku hapal banget. Ya… bau asap rokok. Aku penasaran ingin tahun siapa sih orang yang nekat merokok di ruangan ber-AC di tengah-tengah rapat?
Tengok kiri, clear, ngga ada yang merokok. Tengok kanan juga clear. Palingkan muka ke belakang (pura-pura mengambil sesuatu di tas), clear. Hm… mungkin hidungku yang salah. Tapi aku amati beberapa orang di ruangan itu rada gelisah karena ada sesuatu yang mengganggu, mirip denganku. Eh, pas lihat ke depan, baru terlihat siapa tersangkanya, bos perusahaan. Pantesan ngga ada yang protes.
Huff… sabar sabar sabar. Aku rada tahan napas karena asapnya makin menyebar di satu ruangan AC itu. Pas aku lihat ke depan, hore… rokoknya sudah pendek. Lalu… Alhamdulillah dah habis dan dimatikan. Hihi.. bisa konsentrasi lagi.
Tapi….. masya Allah, beliau membuka bungkus rokoknya dan ambil satu, lalu dinyalakan. Harus atur napas lagi nih. Sampai selesai rapat (lebih kurang 3 jam), beliau tidak berhenti merokok. Begitu rapat dibubarkan, aku segera ke toilet. Aku ngga suka banget, pakaian dan jilbabku bau asap rokok, ngga banget. Untungnya tiap keluar rumah aku selalu bawa pewangi, spray, cologne atau apapun namanya itu untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Aku semprotkan banyak-banyak ke baju dan jilbabku. Aku ngga merokok, ngga suka rokok, ngga suka asapnya, tapi bajuku bisa berbau asap rokok.
Peristiwa 3: Saat bertamu ke rumah orang
Suatu siang yang cerah, aku dan suamiku bertamu ke rumah teman suamiku yang sudah lama tidak bertemu. Tuan rumah mempersilakan kami masuk, sangat ramah dan menyenangkan. Eh, di tengah-tengah obrolan, sang tuan rumah mengeluarkan batang putih pendek 9 cm, didekatkan ke korek api, lalu asap pun mulai mencemari udara di ruang tamu yang asri itu.
Hiiiiiii….. males banget sih, dimanapun aku pergi selalu ketemu perokok. Di sisa obrolan, aku berusaha keras menahan diri supaya mukaku ngga kelihatan tersiksa. Aku tamu dan baru sekali itu bertamu ke rumah itu. Dalam hati aku berharap supaya kami segera pamit karena aku ngga kuat dengan asap rokoknya.
Jadi…
Coba deh ketika kita sedang berada di luar rumah, pilih acak 10 orang di sekitar kita. Sangat susah menemukan kesepuluh orang itu tidak sedang merokok.
Harapanku sih, tolong kalau merokok itu ngga di sembarangan tempat. Hak tiap orang untuk mengatur hidupnya masing-masing termasuk menghancurkan kesehatannya sendiri. Tapi kalau ingin merusak kesehatan jangan seret orang lain (yang mau hidup sehat) dengan merokok seenaknya. Silakan lakukan sendiri di tempat yang memungkinkan untuk itu. Merokok memang hak tiap orang, beli rokok juga pakai uang sendiri, tapi udara yang mengelilingi kita bukan hanya milik perokok.