Sekolah Nilai
Apa jadinya kalau motivasi sekolah / kuliah berorientasi pada nilai?
1. Plagiarisme jadi budaya
Baik dalam skala kecil-kecilan, nyontek waktu ujian, copycat tugas, sampai skala tidak termaafkan, seperti plagiat penelitian orang lain sebagai karya Penelitian, Tugas Akhir, Paper, Tesis, Disertasi pribadi.
2. Googling untuk mencari solusi yang sudah jadi atau sudah pernah dibuat orang lain
Biasanya googling kita tujukan untuk mencari sumber/acuan/referensi yang akan diolah lebih lanjut untuk membantu kita menjawab suatu permasalahan. Nah, biasanya orang-orang yang mau nilai bagus tanpa susah payah (dengan berbagai macam alasan, dari alasan ngga banget sampai alasan yang mm… yah… okelah… tapi seharusnya ngga begitu) akan mencari solusi / jawaban, dan syukur-syukur kalau ketemu, tinggal dipoles sana sini, tidak lupa dibubuhkan nama pribadi. Sumber / referensi yang diperoleh dari mbah Google tentu saja tidak disertakan, nanti ketahuan dong kalau hasil polesan.
3. Mencari hasil laporan / tugas / evaluasi dari kakak kelas
Dengan harapan dosen memberi tugas serupa dengan topik atau contoh kasus sama, maka solusi sudah tersedia. Kalau rajin dan ada waktu, solusi dari tahun lalu itu dipoles, diubah kalimatnya, diubah struktur penulisannya. Kalau udah kepepet ngga ada waktu, tinggal ubah identitas sambil berdoa supaya dosen lupa pernah ada solusi yang sama tahun lalu.
4. Kreatif mencari sumber jawaban / solusi
Misalnya nih, laporan perusahaan ditransfer mentah-mentah jadi laporan tugas kuliah untuk tugas yang topiknya relevan dengan laporan perusahaan tersebut. Polesannya biasanya di bentuk permodelannya. Misalnya, kalau laporan asli punya perusahaan pakai model A, maka di tugas menggunakan model yang diminta oleh Dosen.
5. Memanipulasi hasil survey
Kadang tugas kuliah ada yang jenisnya survey melalui kuesioner, wawancara, sampling dokumen. Demi untuk nilai tinggi, maka hasil kuesioner, wawancara tadi dipermak sedemikian tupa sehingga hasilnya bagus, nilainya tinggi, dan sesuai dengan teori yang disampaikan di kelas.
Jadi
Masih banyak 1001 cara lain yang rela ditempuh demi nilai tinggi. Siapa saja yang terkena gejala orientasi nilai? Semua bisa kena, murid SMP, SMA, mahasiswa sarjana, dan mahasiswa pasca sarjana. Aku sendiri berusaha dengan sekeras-kerasnya berada di luar itu. Sungguh amat sayang sekali (contoh frase tidak efektif, sudah ada amat ditambah sekali, hehe ^^) kalau nilai dijadikan satu-satunya tolak ukur keberhasilan sekolah.
Tugas Menyenangkan
Posted by Ira in Jalan-jalan on 10/11/2008
Awal minggu ini aku dapat tugas menyenangkan dari suami, apakah itu? Melengkapi kebutuhan primer nomor 2, pakaian, kostum, baju, dan yang berkaitan dengan itu. Hehehehehe…… senang dong? Pasti, sebagai istri yang baik, apapun tugas dari suami harus dilaksanakan dengan senang hati
Uda juga mempercayakan ke aku untuk pergi ke toko dan memilih sendiri pakaian yang akan aku beli. Hm… rasanya ada yang kurang nih kalau pergi sendiri, biasanya kalau belanja hampir selalu bareng Uda. Yang kurang itu, ngga ada orang yang berisik meminta cepat-cepat pulang, atau ngga ada orang yang mukanya cemberut seperti anak yang ngga dibelikan mainan yang sudah diincar sejak pertama kali dilihat, hehe.
Pengalamanku pergi sama uda ke pasar / mal, biasanya yang terjadi adalah:
Bertanya “Mau beli, Ra?” ketika aku sedang asyik mengamati suatu pakaian
Kalau aku jawab ngga, biasanya disambung dengan kalimat “Kalau ngga akan dibeli, ngga usah dilihat-lihat. Terus aja cari di rak lainnya. Kalau udah ketemu, ambil, coba, dan bayar.” Waduh… salah satu usaha untuk memilih baju yang akan dibeli itu ya dengan mengamati bajunya, hehe. Lagian mumpung lihat baju masih gratis, kenapa ngga? Nah, kalau kalimat itu sudah keluar 3x, biasanya aku muterin toko, ngelirik kandidat pakaian yang mau aku beli dari jauh tanpa mendekati rak pakaian itu. Kalau dah dua kali mengelilingi toko, uda ngomong lagi “Ra, kalau gini caranya, ngga bakalan dapat baju yang mau dibeli.” Aku cuma bisa geleng-geleng bola mataku, dilihat salah, ngga ada yang dilihat juga diprotes.
Berkata “udah gitu aja? Ngga ada yang dibeli?” ketika aku memutuskan keluar dari toko pakaian tanpa membeli apapun
Biasanya kalau aku dah keluar toko, berarti ya sudah selesai, ngga ada yang dibeli. Abis itu pernyataanku disambung dengan, “Dari tadi 4 jam di sini, 14 kali mengelilingi toko, trus ngga ada yang dibeli? Padahal uda sudah merelakan perut uda keroncongan dari tadi, kaki sakit juga ngga uda pedulikan, demi memenuhi keinginan istri yang mau beli pakaian.” Duh… segitunya. Pertama, di toko itu ngga selama 4 jam, tapi 1 jam lebih 179 menit, hehe… ngga ding, yang benar adalah setengah jam (menurut perasaanku). Kedua, mengelilingi tokonya 1,5 kali, bukan 14 kali. Ketiga, sebelum pergi ke toko, biasanya kami mengisi perut dulu dan keempat, masa baru jalan sebentar, kaki dah sakit. Hehe…
Tidak banyak bicara selama menemani aku
Nah, kalau sudah seperti ini, aku yang waswas sendiri. Biasanya kan uda berisik kalau udah menemani aku belanja, kok tiba-tiba jadi pendiam begini. Trus kalau ditanya, jawabannya pendek-pendek. Misalnya,
“Uda cape?”
“Ngga, Ra” jawab uda, atau
“Uda, ira mau lihat-lihat yang itu, boleh?”
“Boleh Ra…” jawab uda. Tumben pikirku, biasanya uda suka pura-pura menghela napas panjang seolah-olah sudah berjam-jam kita di toko (padahal sebenarnya baru 5 menit). Atau muka uda cemberut sambil bilang, “iya boleh, emang uda punya pilihan apalagi.”
Kalau uda sudah diam begitu, aku yang jadi ngga tenang. Duh, jangan-jangan uda ini lagi sakit beneran, tapi ngga mau bilang supaya bisa tetap menemani aku (kege-eran banget ya aku ini… Tapi awas aja kalau ngga begitu, hehe). Atau jangan-jangan uda lagi kesel karena aku lama banget dan daripada marah-marah, uda memilih diam? Karena ngga tenang, aku memutuskan untuk menyudahi saja acara belanja baju.
Sampai di luar toko, mendadak uda jadi ngga pendiam lagi dan lebih ceria daripada sebelumnya. Hm… begitu ya …
Jadi
Dengan bermacam-macam ulah uda itu, justru acara belanja terasa lebih seru, hehe.
Desain Greenys
Pertama kali aku punya blog tahun 2006, isinya… nyaris ngga ada, hehe. Alasannya klasik banget, karena ngga sempat diisi dan belum tertarik. Trus tiap kali aku tertarik untuk mengisi blog, mengatur setting blog, aku selalu lupa id login ke ira.febdian.net (alamat blog ini), hehe. Kenapa bisa lupa? Apalagi kalau bukan karena terlalu lama dianggurkan.
Tiap kali mau memperbaiki blog, biasanya aku selalu merepotkan Henhen melalui Uda. Mulai mereset id login, menginstal WordPress, memasukkan theme. Hehe, maaf nih hobi banget ngerepotin. Bukannya ngga bisa sendiri, tapi kalau koneksi internet lambat, jadi malas ngutak-ngatik ini itu (alasan memang banyak :p ).
Sejak situs febdian.net diperbarui dan migrasi ke WordPress, aku juga memperbarui desain blog ini. Supaya seragam tapi tetap beda (gimana itu caranya??) aku pakai desain Bluemist. Desain bluemist ini di-supply oleh Henhen.
Kesimpulannya… terima kasih banyak untuk Henhen yang tidak henti-hentinya direpotkan oleh kami berdua, maaf kalau kami terlalu merepotkan, tapi jangan khawatir kehilangan kami karena kami (terutama Uda) ngga pernah bosan merepotkan Henhen. Hehe… yang sabar ya… menghadapi kami
Rokok, di mana-mana Rokok
Peristiwa 1: Siang hari di sebuah angkot yang padat dan pengap…
Aku duduk di bagian paling dalam dan di depanku ada dua orang bapak-bapak. Istimewanya kedua orang bapak tadi merokok. Asapnya bergulung-gulung kena mukaku. Bete… Aku ambil tisu untuk menutupi hidungku (dengan rada provokatif juga sih.) supaya asap rokoknya rada terhalang dan yang lebih penting lagi supaya bapak-bapak tadi segera mematikan rokoknya. Yah… ngga perlu dibuanglah kalau sayang banget ama rokok itu, cukup matikan sementara selama di angkot karena waktu itu di angkot sangat pengap, penuh, dan cuaca terik di luar ditambah jendelanya ngga bisa dibuka. Aku jelas sengsara.
Ternyata oh… ternyata setelah aku nutup muka pakai tisu, tetap ngga ada pengaruhnya. Aku lihat mata kedua orang bapak tadi, kayaknya ngga peduli, malah makin asik mengisap rokoknya. Duh tambah bete… Aku keluarkan buku dari tas lalu aku kipas-kipaskan di depan mukaku untuk menghalau asap rokok supaya kembali ke bapak tadi. Harusnya kalau merokok tanggung konsekuensinya dong. Jangan membuat sengsara orang lain. Kalau mau merusak kesehatan ya sendiri aja, orang lain ngga usah dibawa-bawa. Dalam hati aku rada cemas juga karena tindakanku makin provokatif tapi aku gemes banget sama bapak-bapak itu. Dalam ruangan pengap, jendela tertutup, seenak perutnya aja merokok. Apa ngga bisa ditahan sebentar ngga merokok selama di angkot? Paling lama juga 30 menit.
Ajaib… kedua orang bapak tadi tetap asik merokok. Kok bisa ngga peka gitu ya. Aku mau negur bapak-bapak itu juga mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, aku masih sma kelas 1, bisa-bisa aku balas dihardik. Kedua, waktu itu aku lagi pergi sendiri, nanti kalau bapak-bapak itu ngga terima, bisa-bisa aku tambah sengsara. Beberapa menit kemudian, aku ngga kuat lagi menghirup racun, aku tegur kedua bapak itu.
Aku: “Pak, maaf saya terganggu dengan asap rokok ini.”
Bapak A: “Oh…..”
Aku menunggu reaksi bapak itu, ternyata masih sempat menghembuskan asapnya. Duh… sabar… sabar…. Setelah beberapa menit, akhirnya rokok itu dimatikan, Alhamdulillah. Tapi karena aku masih sangat-sangat jengkel, aku nanya lagi,
Aku : ” Pak, kenapa sih merokok? Itu kan bahaya… paru-paru bisa rusak, jantung bermasalah.”
Bapak 1: “Abis gimana, Neng… udah dari dulu, ngga bisa berenti”
Bapak 2 hanya melihat kami mengobrol.
Aku cuma berharap segera turun dari angkot.
Periatiwa 2: Rapat di suatu perusahaan dalam ruangan besar dan ber-AC
Aku harus presentasi bersama kedua orang temanku di hadapan staf dan pimpinan mengenai kemajuan suatu proyek. Di tengah acara, ketika temanku sedang menjelaskan fitur dalam proyek tersebut, aku mencium bau-bau mengganggu yang aku hapal banget. Ya… bau asap rokok. Aku penasaran ingin tahun siapa sih orang yang nekat merokok di ruangan ber-AC di tengah-tengah rapat?
Tengok kiri, clear, ngga ada yang merokok. Tengok kanan juga clear. Palingkan muka ke belakang (pura-pura mengambil sesuatu di tas), clear. Hm… mungkin hidungku yang salah. Tapi aku amati beberapa orang di ruangan itu rada gelisah karena ada sesuatu yang mengganggu, mirip denganku. Eh, pas lihat ke depan, baru terlihat siapa tersangkanya, bos perusahaan. Pantesan ngga ada yang protes.
Huff… sabar sabar sabar. Aku rada tahan napas karena asapnya makin menyebar di satu ruangan AC itu. Pas aku lihat ke depan, hore… rokoknya sudah pendek. Lalu… Alhamdulillah dah habis dan dimatikan. Hihi.. bisa konsentrasi lagi.
Tapi….. masya Allah, beliau membuka bungkus rokoknya dan ambil satu, lalu dinyalakan. Harus atur napas lagi nih. Sampai selesai rapat (lebih kurang 3 jam), beliau tidak berhenti merokok. Begitu rapat dibubarkan, aku segera ke toilet. Aku ngga suka banget, pakaian dan jilbabku bau asap rokok, ngga banget. Untungnya tiap keluar rumah aku selalu bawa pewangi, spray, cologne atau apapun namanya itu untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Aku semprotkan banyak-banyak ke baju dan jilbabku. Aku ngga merokok, ngga suka rokok, ngga suka asapnya, tapi bajuku bisa berbau asap rokok.
Peristiwa 3: Saat bertamu ke rumah orang
Suatu siang yang cerah, aku dan suamiku bertamu ke rumah teman suamiku yang sudah lama tidak bertemu. Tuan rumah mempersilakan kami masuk, sangat ramah dan menyenangkan. Eh, di tengah-tengah obrolan, sang tuan rumah mengeluarkan batang putih pendek 9 cm, didekatkan ke korek api, lalu asap pun mulai mencemari udara di ruang tamu yang asri itu.
Hiiiiiii….. males banget sih, dimanapun aku pergi selalu ketemu perokok. Di sisa obrolan, aku berusaha keras menahan diri supaya mukaku ngga kelihatan tersiksa. Aku tamu dan baru sekali itu bertamu ke rumah itu. Dalam hati aku berharap supaya kami segera pamit karena aku ngga kuat dengan asap rokoknya.
Jadi…
Coba deh ketika kita sedang berada di luar rumah, pilih acak 10 orang di sekitar kita. Sangat susah menemukan kesepuluh orang itu tidak sedang merokok.
Harapanku sih, tolong kalau merokok itu ngga di sembarangan tempat. Hak tiap orang untuk mengatur hidupnya masing-masing termasuk menghancurkan kesehatannya sendiri. Tapi kalau ingin merusak kesehatan jangan seret orang lain (yang mau hidup sehat) dengan merokok seenaknya. Silakan lakukan sendiri di tempat yang memungkinkan untuk itu. Merokok memang hak tiap orang, beli rokok juga pakai uang sendiri, tapi udara yang mengelilingi kita bukan hanya milik perokok.
IM2 Broom Broadband Prabayar

Setelah kemarin baca berita tentang peluncuran IM2 Broadband unlimited hanya dengan 100.000 per bulan (IM2 Broom Unlimited), aku sempatkan ke Bandung Electronic Mall (BEC) siang tadi. Aku tertarik dan ingin tahu lebih lanjut. Kalau benar bisa online tanpa kuota dengan 100.000 per bulan, wah… boleh dicoba nih. Selain itu, aku juga ngga terlalu mempermasalahkan kecepatan aksesnya (asal masih wajar), yang lebih penting kestabilan dan ngga putus-putus atau muncul pesan “Connection Interrupted” di Firefox, hehe.
Begitu masuk BEC, di lobi depan, sudah ada stan Indosat 3,5G. Kebetulan nih, mungkin jual IM2 Broom. Aku mendekat ke stan itu dan bertanya tentang Indosat 3,5G. Hm… ternyata berbeda. Kalau Indosat 3,5G itu ada paket Eco, paket … (aku lupa, kalau ngga salah ada 4 paket) yang harganya mulai dari 160.000 sampai 1.000.000-an. Perasaanku bukan ini yang ada di iklan semalam. Biar ngga penasaran, aku tanya ke penjaga stan, “Mbak, bedanya layanan ini dengan layanan IM2 apa?”
Mbak penjaga stan (MTS): Oh, kalau IM2 anak perusahaannya Indosat.
Aku: (masih diam sambil menunggu lanjutan penjelasan…)
Setelah kira-kira sepuluh detik ngga ada lanjutan penjelasan, aku menyimpulkan penjaga stan Indosat itu belum tentang IM2 Broom. Lalu, aku bilang terima kasih dan segera pergi dari situ menuju ke lantai atas.
Di lantai 2 dan 3 (aku ngga hapal penamaan lantai di BEC, yang jelas dua lantai yang menjual komputer dan aksesorisnya) banyak toko yang menjual starter pack dan voucher isi ulang IM2 Broadband, tapi kok informasi yang aku dapat adalah kuota sekian untuk nominal voucher sekian (yang terbesar itu kuota 300 MB untuk voucher Rp 150.000). Wah… jangan-jangan kemarin aku salah baca iklan, atau salah mengerti ya, hehe. Aku tanya ke pegawai toko, eh… rada diacuhkan. Dia lebih sibuk melayani pengunjung lain yang kelihatannya sudah pasti mau beli sesuatu. Ngga jadi deh…
Pas aku mau keluar BEC, di dekat eskalator di lantai pertama yang menjual komputer dan aksesorisnya, aku lihat ada stan IM2 Broom. Wah, ini yang aku lihat di iklan kemarin. Lalu, aku tanya ke penjaga stannya tentang IM2 Broom. Ternyata IM2 Broom itu ada dua versi, Classic dan Unlimited.
- Classic, nominal vouchernya mulai dari 10.000 (kuota 16 MB) sampai 150.000 (kuota 300 MB)
- Unlimited, pembayaran bulanannya Rp 100.000. Kecepatan aksesnya maksimal 256 Kbps (prabayar) dan 384 Kbps (pascabayar) sampai kuota data 2 GB. Setelah kuota 2 GB terlampaui, akses internet masih tetap bisa dilakukan tanpa tambahan biaya, tapi kecepatannya diturunkan menjadi maksimal 64 Kbps. Untuk yang prabayar, tiap bulan harus mengisi voucher Rp 100.000 kalau masih ingin melanjutkan akses IM2 Broom.
Hm… ngga ada salahnya dicoba. Aku beli starter packnya, harganya Rp 150.000 (termasuk voucher Rp 100.000), lalu aktivasi di tempat.
Malamnya, aku coba mengakses internet dengan IM2 Broom di laptop. Awalnya ngga bisa. Trus aku coba di ponsel (SE K530i)… dan bisa. Akhirnya setelah sedikit konfigurasi di laptop dan SE K530i, IM2 Broom bisa aku nikmati di laptop.
Barusan aku tes kecepatan download dan uploadnya (sekitar pukul 22.35), kecepatannya mencapai 240 Kbps (download) dan 46 Kbps (upload). Sampai sekarang (pukul 00.30) koneksinya belum terputus. Good… mudah-mudahan kalau nanti penggunanya makin banyak, kualitas IM2 Broom bisa dipertahankan, kalau bisa sih ditingkatkan, hehe…
Kuliah hari ini…
Posted by Ira in Kuliah, Sistem Informasi on 15/10/2008
Yang paling aku inget dari kuliah hari ini adalah cerita tentang cita-cita menjadi orang pas-pas-an. Pas ingin mobil, ada mobil, Pas mau rumah, rumah tersedia, pas mau buka toko, modal sudah siap, pas mau menguras isi toko dengan cara legal, sudah ada tumpukan kartu kredit/debit setinggi 10 cm, hehe
.
Tapi bagaimana jika kondisi sekarang (current) berada di pas-pasan sebenarnya? Nah, selisih antara cita cita (to be/required) yang “pas-pasan” dengan kondisi sekarang (as is/current) yang pas-pasan sebenarnya, itulah yang disebut dengan gap. Bagaimana caranya mengatasi gap itu? Tergantung strategi masing-masing. kalau untuk contoh di atas, salah satu strategi untuk mencapai cita-cita adalah mencari pasangan berkepribadian tinggi. Artinya, punya mobil pribadi, rumah pribadi, kalau perlu pasar pribadi, hehe
.
Cerita di atas muncul ketika sedang membahas evaluasi gap antara lingkungan TI yang ada saat ini di organisasi dengan kebutuhan IT yang diperlukan untuk mencapai objektif organisasi tsb. Oh, iya, posisi TI di organisasi tsb sebagai supporting, bukan sebagai core business organisasi.
Maksud supporting business artinya IT digunakan untuk memperlancar operasional sehari-hari organisasi, meningkatkan keunggulan organisasi, dan membuka peluang bisnis baru atau perluasan dari bisnis yang sudah ada. Misalnya di suatu studio desain yang bisnis utamanya adalah membuat desain sesuai dengan permintaan, investasi IT (komputer, server, peralatan instalasi jaringan & internet, dan bermacam-macam software desain grafis) diadakan supaya studio desain tersebut bisa menghasilkan desain yang berkualitas tepat waktu. Kemudian dengan adanya internet, studio desain dapat memasang portofolionya dengan mudah dan menjangkau calon konsumen lebih banyak lebih luas. Dampak yang diharapkan tentu saja makin banyak kontrak kerja yang mengalir ke studio tersebut. Kalau IT sebagai core business itu contohnya di perusahaan Microsoft, Cisco, Dell, de el el yang bisnis utamanya adalah menjual produk-produk IT.
Kembali ke topik awal, memangnya kenapa perlu dievaluasi? Kalau tidak dievaluasi kan tidak bisa diketahui posisi lingkungan IT yang sekarang terhadap yang dibutuhkan. Selama ini, banyak organisasi yang menganggap investasi IT itu menghabiskan anggaran tapi dampaknya nyaris tak terasa. Penyebabnya karena perencanaan dan penyusunan rencana investasi IT tidak disesuaikan dengan kebutuhan IT, proses bisnis, dan tujuan organisasi. Selain itu, umumnya belanja IT adalah belanja teknologi baru. Padahal teknologi tersebut bisa jadi terlalu canggih atau tidak dibutuhkan. Yang lebih ekstrim, ada organisasi yang tidak mempunyai daftar kebutuhan IT sehingga belanja IT lebih disebabkan karena merasa butuh semua (diperkuat dengan marketing vendor yang agresif).
Setelah dievalusi, baru dapat ditentukan ada tidaknya gap. Kalau ada gap, maka dapat ditentukan strategi untuk menghilangkan gap tersebut. Salah satu strateginya adalah memahami tujuan organisasi, kemudian identifikasi proses bisnis apa yang harus dilakukan organisasi agar tujuan tercapai. Periksa efektivitas proses tersebut. Jika perlu, lakukan ESIA (Eliminate, Simplify, Integrate, Automate) proses bisnis. Dari proses bisnis lakukan pemetaan kebutuhan IT untuk mengoptimalkan output yang dihasilkan. Terakhir, membuat rencana investasi IT sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Itu lebih kurang yang aku ingat tentang kuliah hari ini.
Godaan 70
Posted by Ira in Jalan-jalan on 20/09/2008
Sore itu, di area pameran lantai dasar BIP, Sale up to 70 % perlengkapan ramadhan. Wah… ngeliat angka 70 % yang dicetak besar dan bold, aku jadi pengen tahu barang apa sih yang didiskon. Oh… pakaian muslim. Pakaian muslim yang seperti apa ya… bagus ngga ya… murah ngga ya… Hmm… ngga ada salahnya liat-liat. Hehe… perempuan banget ya…
Oke, aku putuskan melihat-lihat. Pakaian muslimnya bagus-bagus. Pikirku… beneran nih yang seperti ini didiskon 70 %? Ngga rugi tuh tokonya?. Eh, di ujung rak ada sesuatu yang berwarna pink… Hm… menarik nih, ambil dulu ah, sebelum keduluan. Oya, cek dulu harganya, 255.000, diskonnya 70 %. Oke… tetap di tangan.
Cari lagi yang lain… eit… apa nih, ada yang tersembunyi di balik pakaian yang lain. Wah… sepotong baju panjang berwarna merah yang bagus, persis seperti gambaranku tentang baju yang ingin aku pakai. Cek harga, 275.000, diskon 50 %. Sip… pindahkan ke tangan.
Udah cukup. Kalau aku teruskan nyari, nanti malah makin banyak pakaian pindah ke tanganku. Aku kan ke BIP mau beli body lotion, bukan pakaian. Pas lagi jalan menuju kasir, aku bimbang, ada dua pendapat berlawanan di kepalaku.
Pendapat satu (P1): Sebenarnya aku butuh ngga sih pakaian-pakaian ini?
Pendapat dua (P2): Butuh dong… pakaian kan kebutuhan primer, sepanjang hidup manusia butuh pakaian.
P1 lagi: Iya sih, tapi di lemariku aja masih ada beberapa pakaian yang belum pernah aku pakai, trus kenapa aku malah ngambil pakaian-pakaian ini ya…
P2 menghasut: Ambil, bayar. Pakaian-pakaian itu kan bagus, modelnya ngga pasaran, unik tapi sederhana, dan didiskon besar pula. Kapan lagi? Take it or regret it.
Aku: Bingung bingung … Gimana nih … Keluar dulu ah dari area pameran. Kembalikan dulu pakaian di tanganku ini ke tempat semula.
Di luar, aku mengamati area pameran. Ramai, penuh. Aku amati lagi dari jauh berbagai model pakaian yang dipajang. Pertama, modelnya sebagian besar banyak aksen dan detilnya. Bagus-bagus, tapi aku ngga nyaman pakai baju yang “ramai”. Kedua, aku belum butuh pakaian baru. Pakaianku yang lama masih layak pakai. Ketiga, nafsu jangan diturutin terus, hehehehe, nanti makin melunjak. Akhirnya dengan mantap aku putuskan ngga jadi beli dan melangkah pasti ke Body Shop untuk membeli body lotion sesuai tujuanku semula ke BIP.
What a Week …
Akhirnya… jumat datang… Trus, kalau jumat kenapa? Karena aku suka hari Jumat… Walaupun hari seninnya akan ada banyak tugas, kerjaan, atau apapun namanya… aku tetap suka hari Jumat.
Minggu ini diawali dengan tantangan baru buat aku, tantangan mengendalikan emosi, kesabaran, dan menerima hasil yang ngga sesuai harapan. Awalnya, aku sulit menerima hasil yang ngga sesuai dengan target (padahal targetnya pun bukan target muluk-muluk). Aku bersungguh-sungguh, tapi karena didominasi usaha-usaha lain yang asal jadi, minimalis, dan yang penting beres, hasil akhirnya jadi jauh panggang dari api. Yah… ngga jauh-jauh amat sih panggangnya, masih terasa hawa panasnya…. (Apa sih ??).
Untungnya… (masih tetap untung), aku jadi berlatih menghadapi orang lain yang berbeda denganku, belajar memahami keterbatasan orang lain, dan mengelola emosi dan pikiranku (hihihi…) supaya menjadi lebih baik. Tapi…. tapi… tetap aku sulit menerima dengan lapang dada usaha “copy paste” atau usaha “yang penting beres”.
Aku masih harus banyak belajar…, banyak sabar …